Tampilkan postingan dengan label fokus utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fokus utama. Tampilkan semua postingan

Do'a Tak Sekedar Meminta

Keyakinan akan adanya Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta menumbuhkan berbagai konsekuensi, salah satunya adalah kesadaran kita untuk berharap kepada-Nya, dan pernyataan harapan itu sering kita sebut dengan do’a. Do’a adalah pusaran harapan atas apa yang kita inginkan, atas kesulitan yang menimpa dan atas kesusahan yang mendera. Do’a adalah pusaran harapan, yang sekaligus menjelaskan tentang status kehambaan manusia, karena ia sadar bahwa ia adalah hamba, maka meminta dalam do’a kepada-Nya mencerminkan kesadaran tentang semua yang terjadi adalah atas kehendak-Nya. Sebuah penegasan keimanan yang dikehendaki oleh Allah dalam surat Al Fatihah, “hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” menjadi dalil pasti tentang keharusan kita untuk menggantungkan do’a, harapan dan pertolongan hanya kepada Allah. Maka waspadalah, jika sekarang ada percik-percik harapan diri kita kepada selain Allah, mari beristighfar dan segera kembali kepada-Nya. Karena berharap kepada selain-Nya biasanya berujung kecewa, sedangkan berharap kepada Allah, maka Dia tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.
Sudahlah cukup dianggap suatu kesombongan jika seorang manusia itu enggan berdo’a kepada Allah. Para nabi dan rasul, manusia yang dicintai Allah, yang dijamin masuk surga, manusia-manusia mulia ini pun tak luput dari berdo’a, memohon ampun dan menghaturkan pinta kepada-Nya. Bahkan do’a itu menjadi bagian cara bersyukur yang paling indah. Sebagaimana kisah yang sering kita dengar, tentang romantisme Rasulullah dengan Aisyah dikala menjalankan sholat malam sampai kaki Rasul bengkak. Kemudian Aisyah bertanya, “mengapa engkau sampai beribadah seperti ini?”. Rasul menjawab, “tidak bolehkan aku menjadi hamba yang bersyukur?”. Tentunya, dalam sholat malamnya itu, Rasulullah memanjatkan begitu banyak do’a, karena bacaan-bacaan dalam sholat itu sendiri adalah do’a, dan bahkan makna sholat itu juga adalah do’a. maka do’a adalah inti ibadah. Ini kembali menguatkan, bahwa berdo’a adalah wujud kesadaran manusia atas perannya sebagai seorang hamba Allah, yang bertugas beribadah kepada Allah.
Alangkah indah, jika segala pinta dalam do’a – do’a kita itu begitu cepat dikabulkan oleh Allah. Menjadi orang yang mustajab do’anya, sungguh menjadi impian semua orang, sebagaimana mustajabnya do’a seorang sahabat Nabi, Sa’ad bin Abi Waqash. Diriwayatkan, suatu hari, Sa’ad melihat seorang laki-laki yang mencaci maki Ali RA, Thalhah RA dan Zubair RA. Ia menegur orang itu. Namun, orang itu tidak peduli. Lalu Sa’ad berkata,”Kalau begitu, aku akan mendo’akan keburukan untukmu.” Laki-laki itu menjawab,”Kamu mengancamku? Kamu ini seperti nabi saja.” Sa’ad pergi. Ia berwudhu, shalat dua raka’at, lalu berdo’a “Ya Allah, Engkau tahu bahwa laki-laki itu telah mencaci maki kaum yang telah mendapatkan kebaikan dari-Mu. Caci makinya tentu membuat-Mu marah. Karena itu, tunjukkan kebesaran-Mu dan jadikan dia sebagai pelajaran bagi orang lain.”
Tidak lama kemudian, seekor unta berlari kencang keluar dari sebuah rumah. Unta itu tidak bisa dikendalikan. Ia terus menerobos kerumunan orang, seakan ada sesuatu yang dicarinya. Unta itu menabrak laki-laki tadi dan terus menginjak-injaknya hingga tewas.
Hidup kita akan bahagia jika mempunyai do’a semustajab Sa’ad bin Abi Waqash. Namun, do’a bukan sekedar meminta, kemudian dikabulkan. Do’a bukan sekedar meminta, kemudian kita akan mendapatkan apa yang diminta. Lihatlah lebih dalam lagi, siapa itu Sa’ad bin Abi Waqash yang do’anya begitu cepat dikabulkan. Beliau adalah “singa yang menyembunyikan kukunya”, beliau adalah orang yang pertama kali menggunakan panah dalam perang membela agama Allah, dan beliau juga adalah orang yang pertama kali terluka karena panah dalam jihad fii sabilillah. Maka, dengan ini kita paham, bahwa do’a tidak sekedar meminta. Ada cara-cara agar do’a kita segera dikabulkan, agar pinta kita segera mendapatkan jawaban yaitu mengiringi do’a dengan amalan terbaik, menyertai do’a dengan amalan tersholih yang bisa kita persembahnya kepada Allah azza wa jalla serta berdo’a sesuai dengan adab-adabnya.
Ketetapan Allah bahwa Dia tidak akan pernah mengingkari janji-Nya menjadi jaminan bahwa setiap do’a akan dikabulkan, asal sesuai adab-adabnya, sesuai dengan apa yang dikendaki Allah. DR Mu’inudinillah bashri, MA dalam bukunya “Penuntun Dzikir & Do’a Berdasarkan Sunah Nabi SAW” menuliskan adab dan kiat agar do’a terkabul. Pertama, memantapkan iman dan tauhid kepada Allah, dan menyambut perintah-perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya, komitmen dengan aturan-Nya, yakin dengan janji-Nya, termasuk janji akan dikabulkannya do’a. Allah berfirman dalam QS Al Baqarah : 186 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” .
Kedua, yang perlu kita perhatikan agar do’a terkabul adalah tidak tergesa-gesa dalam pengabulan, dengan terus berdo’a sampai Allah mengabulkan do’anya. Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah bersabda, “dikabulkan seseorang diantara kalian selama tidak tergesa-gesa, dia mengatakan aku sudah berdo’a tapi tidak dikabulkan untukku” (HR Malik). Inilah sikap yang sering muncul dalam diri manusia. Manusia cenderung terlalu cepat “memvonis” bahwa do’anya tidak dikabulkan, bahkan bisa terjerumus dalam sikap memvonis bahwa Tuhan tidak adil. Na’udzubillahi mindzalik. Sesungguhnya, Allah paling tahu apa yang kita butuhkan. Dan sebenarnya, jika kita mau jujur kepada diri, bahwa apa yang kita minta dalam do’a, apa yang kita inginkan itu belum tentu sesuatu yang kita butuhkan. Maka, kembalikan semua kepada Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui tentang apa yang kita butuhkan daripada yang sekedar kita inginkan. Terus saja berdo’a. Allah paling tahu cara untuk mengabulkannya.
Ketiga, menjaga kehalalan makan, minum, pakaian dan lain-lainnya adalah faktor penting yang menjadi adab agar do’a kita terkabul. Sekali lagi kita ambil hikmah dari kisah hidup sahabat Sa’ad bin Abi Waqash yang mustajab do’anya. Ketika Rasulullah mendo’akan Sa’ad agar menjadi orang yang terkabul do’anya, maka Rasulullah juga menasihatkan hal berikut seperti yang tertuang dalam hadits : dari Ibnu Abbas berkata ayat ini dibacakan di hadapan Nabi SAW, “Wahai manusia makanlah dari apa-apa yang di bumi dalam kondisi halal dan baik, lantas Sa’ad bin Abi Waqqash berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, doakan saya menjadi orang yang terkabul do’anya.” Nabi bersabda kepadanya, “Ya Sa’ad perbagusilah (usahakan agar halal dan baik) makananmu niscaya engkau menjadi orang yang dikabulkan do’anya, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Sungguh seorang hamba menelan satu suapan yang haram di dalam rongganya, maka tidak diterima darinya amalan selama empat puluh hari dan hamba mana saja yang dagingnya tumbuh dari yang haram dan riba maka neraka lebih berkah untuknya.”
keempat, memulai do’a dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu dilanjutkan dengan shalawat kepada Rasulullah. Shalawat dan salam merupakan pembuka istijabah  dan sanjungan kepada Allah merupakan pengantar istijabah. Banyak diriwayatkan dalam hadits tentang pujian dan sanjungan kepada Allah serta kalimat-kalimat shalawat kepada Rasulullah yang bisa kita amalkan sebagai adab sebelum berdo’a.
kelima, mencari waktu-waktu yang mustajabah, seperti ba’da sholat wajib, hari jum’at terutama antara dua khutbah ketika imam duduk di mimbar dan ba’da asar sampai maghrib, ketika sedang sakit, ketika bepergian, ketika hujan, antara adzan dan iqomat, dan pada sepertiga malam terakhir. Mari berlomba-lomba berdo’a di waktu-waktu istimewa ini.
Keenam. Mendo’akan untuk saudaranya muslim. Dari Shafwan berkata, aku datang ke Syam, maka aku mendatangi Abu Darda’ di rumahnya, tapi aku tidak mendapatkannya, dan kudapati Ummu Darda’, dia berkata,”Apa engkau ingin haji tahun ini?” Aku berkata,”Ya.” Dia berkata,”Do’akan kita dengan kebaikan, karena Rasulullah bersabda,”do’anya seorang muslim untuk saudaranya ketika tidak pernah bertemu adalah mustajab, di sisi kepalanya ada malaikat yang ditugaskan menjaganya, setiap kali berdo’a untuk saudaranya dengan kebaikan, berkata malaikatnya,” Aamiin. Dan untuk engkau seperti itu.” Lantas aku pergi ke pasar dan bertemu dengan Abu Darda’ beliau berkata kepadaku seperti itu, beliau riwayatkan dari Nabi SAW.”(HR Muslim). Sungguh indah Islam ini, sungguh betapa Allah dan Rasulullah mencintai kita. Islam mengajarkan kepedulian dan eratnya persaudaraan, hingga “sekedar” mendo’akan saudaranya yang muslim makna sebenarnya adalah kita sedang berdo’a untuk diri sendiri. Mari perbanyak mendo’akan saudara-saudara kita, agar do’a-do’a kita terkabul.
Ketujuh, mengangkat kedua tangan. Termasuk sunnah ketika berdo’a adalah mengangkat kedua tangan, kecuali di waktu-waktu tertentu yang Rasulullah berdo’a di kesempatan itu dan tidak mengangkat tangan, yang mengisyaratkan bahwa hal itu tidak disyariatkan, seperti do’a ketika khutbah. Adapun do’a secara mutlak disukai untuk mengangkat tangan. Dalam hadits riwayat At-Thabrani, dari Salman, dari Nabi SAW berkata, “sesungguhnya Allah azza wa jalla, malu jika seorang hamba mengangkat kedua tangannya kemudia mengembalikan keduanya dalam kondisi nol (kosong tanpa pengabulan) tidak ada sesuatu pada keduanya.”

Setidaknya ada 7 adab yang telah kita ketahui agar do’a kita terkabul. Karena memang do’a tidak sekedar meminta, ada adab dan caranya, ada amal penyertanya. Bersama adab dan amal-amal itu, semoga do’a kita semakin mudah dikabulkan. Mari selalu sempatkan untuk berdo’a, selalu luangkan waktu untuk bermunajat kepada-Nya dan jangan lupa untuk menyertakan beberapa baris kata sebagai do’a untuk saudara-saudara kita. [mukti]
Baca Selengkapnya →

Masa Depan Harta Kita

 
 Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah RA, ia berkata : “Abu Bakar pernah memiliki seorang budak yang dibebani bagi hasil harian dari keuntungan usahanya, dan Abu Bakar memang sudah biasa memakan dari uang bagi hasil itu. Suatu hari budak tersebut membawakan makanan, lalu Abu Bakar memakannya. Budak tersebut lalu berkata kepadanya : “Tahukah engkau, dari manakah makanan ini?” Abu Bakar menjawab : “Memang dari mana?” Budak menjawab : “Aku baru saja melakukan peramalan untuk seseorang dari kalangan jahiliyyah dan aku tidak melakukannya dengan sungguhan, melainkan hanya mengibulinya. Selanjutnya, orang tersebut menemuiku dan memberi makanan ini. Itulah makanan yang engkau makan itu. Abu Bakar pun lalu memasukkan jari tangannya ke dalam tekaknya, sehingga dia pun memuntahkan semua makanan yang telah masuk ke dalam perutnya itu.
Mungkin, di masa sekarang memang sangat sulit ditemui atau bahkan tidak akan bisa ditemui lagi orang semulia Abu Bakar. Tindakan beliau yang sampai memuntahkan kembali makanan yang sudah masuk ke perut adalah hal yang langka saat ini. Justru yang jamak ditemui sekarang adalah orang-orang yang berebutan untuk memuaskan nafsu mulutnya, tanpa terlalu memikirkan sumber dan proses memperoleh apa-apa yang dimasukkan ke mulutnya itu. Begitulah Abu Bakar, yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah, bahwa seandainya iman seluruh manusia itu ditimbang, maka itu tidak akan bisa menyamai “berat”nya iman Abu Bakar. Maka teladan ini adalah sebuah panutan dan tuntunan untuk kita perhatikan, yaitu tentang apa-apa yang kita makan, yang kita minum, yang kita pakai dan yang kita pergunakan untuk diri kita ini, darimana ia berasal, bagaimana cara memperolehnya, serta dimanfaatkan untuk apa.
Menarik jika kita sejenak membaca apa yang dituliskan ustadz Salim A. Fillah dalam buku Lapis-lapis Keberkahan tentang sebuah keluarga kecil dan caranya memaknai harta, cara memperolehnya dan digunakan untuk apa.
“Maaf ya, rumahnya kecil,” kata pemuda itu pada istrinya sebakda pernikahan. ‘Kontrakan pula.” Dia berusaha tersenyum meski ada yang terasa membebani.
“Tak apa.” Ujar sang istri denan wajah ridha lagi bahagia. Senyumnya mengembang sempurna. “Jangan terlalu dipikirkan,” lanjutnya, “yang sempit akan terasa luas asalkan hati kita juga lapang.”
Hati lelaki muda itu tiba-tiba seperti disergap sejuk embun pegunungan. Tapi tetap dijajakinya pemahaman istrinya. “Bagaimana jika nantinya kita harus mengontrak rumah seumur hidup karena aku tak sanggup membeli rumah untuk kita?”
Istrinya tersenyum lagi. “Tidak apa-apa Sayang,” ujarnya kini dengan nada bermanja. “Punya rumah tidak wajib. Tak memilikinya bukan berarti dosa. Kalau shalat baru wajib. Tidak shalat barulah dosa.” Sang istri tertawa kecil, memperlihatkan betapa mais gigi gingsulnya.
Lelaki itu terhenyak makin kagum pada wanita yang sebenarnya belum terlalu dikenalnya. Hanya dua atau tiga pertemuan di rumah seorang ustadz. Tanya jawab singkat tapi bermaknalah yang membuat mereka memutuskan menikah.
“Memangnya kamu tidak ingin punya rumah, Sayang?” tanyanya berdebar. “Ingin sekali, amat sangat ingin,” sahut sang istri, “yang besar, megah, mewah dan berada di tengah taman yang indah.”
“Wah,” timpal suaminya, ‘dengan keadaaan sekarang, aku tidak tahu apakah sampai akhir hidupku aku akan mampu membelikan untukmu.”
“Tenang saja, Sayang,” kata istrinya dengan riang, “cukup bagi kita punya rumah di surga. Yang di dunia, kita nikmati saja apa yang ada.”
Maka berjalanlah hidup pasangan muda itu dengan keterbatasan yang disabari dan nikmat-nikmat tak terduga yang disyukuri. Tiga sore dalam sepekan, rumah sewaan mereka ramai oleh anak-anak yang belajar mengaji Al-Qur’an. Gema mereka mengeja huruf-huruf hijaiyyah menggetarkan dinding-dindingnya. Gemuruh tilawah mereka menjadi senandung yang syahdu.
Tapi juga tingkah polah mereka beraneka. Gedebag-gedebugnya rebut. Hingar-bingarnya gempar. Riuh-rendahnya semarak. Dan suatu hari, dengan pensil warna, crayon, dan spidol, mereka menggambar dan melukisi tembok-tembok ruang tamu bersahaja itu dengan sangat seru. Coret-moret jadinya. Dan atas ketetapan Allah, saat mereka asyik menuangkan karya abstraknya, datanglah sang pemilik rumah lantas marah-marah.
Tentu saja, dia merasa bahwa milik yang dia amanahkan sebagai sewaan, telah dikotori dan dibuat berantakan oleh anak-anak pengajian. Sebagian anak itu takut dan menangis. Sebagian yang lain lari dan berolok-olok. Tapi jelas, majelis pengajian sore itu kacau acaranya.
Petang itu, di pundak suaminya, sang istri menangis. “Kasihan anak-anak itu,” ujarnya di sela isak, “bagaimana kalau mereka takut dan tak berani mengaji lagi? Beliau berlebihan, bukan? Kalau hanya dinding dicorat-coreti, bukankah kapan waktu bisa dicat lagi?”
Diam-diam, di dalam hatinya, sang suami merintih pada Rabbnya. “Ya Allah.” Lirihnya, “jika memiliki rumah itu baik, Ya Allah; agar anak-anak yang mengaji ini jika berekspresi mencorat-coret tembok kami tak perlu ada yang memarahi; maka kami tak keberatan jika Kau anugerahkan tempat tingal yang mencukup sebagai milik kami.”
Dan mudah bagi Allah Yang Maha Pemberi kaya mewujudkan permohonan. Mungkin bukan bersebab kedua sumai-istri itu telah menyiapkan jawab jika ditanya untuk apa rumah yang mereka pinta. Tapi ini karunia Allah, yang dengan jawaban itu insyaAllah akan bertambah ringan hisab atasnnya di akhirat nanti. Sebulan kemudian, dengan cara yang sangat menakjubkan, Allah anugerahkan mereka sebuah rumah yang melampaui semua bayangan mereka dalam letak, ukuran, maupun kemudahan pembayarannya.
Mereka pun, bersama anak tercinta, masih saja santai saja mengendarai sepeda motor ke mana-mana. Sampai orang-orang menegur, andai sepeda motor itu bisa bicara, pastilah ia berteriak mengungkapkan derita. Sebab penumpangnya yang berat-berat, betapa membebaninya. Tapi setia kali hadai dan tekan menggoda agar mereka menggantinya dengan mobil saja, sang istri berkata pada suaminya, “Mana bisa mobil membuat kami semesra boncengan berdua?”
Hingga suatu hari sang istri menangis lagi. Sebab dia melihat ibu tetangga dekat yang sudah harus cuci darah akibat penyakit gagal ginjal, berangkat ke rumah sakit dibonceng suaminya yang sudah berumur pula. Hujan turun deras, dan mereka tampak sangat kepayahan dalam basah dan dingin menusuk.
“Ya Allah, kasihan mereka,” begitu gumam wanita di sisinya yang membuat sang suami kembali melirihkan do’a. “Ya Allah,” batinnya, “jika memiliki mobil itu baik; bisa digunakan mengantar tetangga cuci darah rutin tanpa kehujanan, maka kami tidak keberatan dikaruniai mobil, ya Allah.”
Dan mudah bagi Allah Yang Maha Pemberi kaya mewujudkan permohonan. Mungkin bukan bersebab kedua suami-istri itu telah menyiapkan jawab jika ditanya untuk apa mobil yang mereka pinta. Tapi ini karunia Allah, yang dengan jawaban itu insyaAllah akan bertambah ringan hisab atasnya di akhirat nanti. Lagi-lagi sebulan kemudian, dengan cara yang sangat menakjubkan, Allah anugerahkan mereka sebuah mobil yang melampaui semua bayangan mereka tentang merek, model, umur, kenyamanan, maupun kemudahan pembayaran.
Begitulah kisah yang disampaikan, dan agar lebih mendalami lagi hikmah pelajaran yang bisa dipetik, maka ada bagian dari realita kehidupan sehari-hari yang kiranya juga patut diperhatikan. Saat kita masa kanak-kanak, atau pun bagi saudara sekalian yang sudah mempunyai anak, cobalah diingat ketika anak-anak itu meminta sesuatu. Misalnya begini, “Bunda, aku minta uang, 10 ribu saja!” . di benak sang anak, mungkin sudah tergambar sekian banyak ingin yang bisa dibeli dengan 10ribu itu, atau mungkin dia hanya ingin memegang uang saja. Namun kemudian, sang bunda, sebagaimana orang tua pada umumnya, saat anaknya meminta seperti itu, maka akan tercetus sebuah tanya, “buat apa, Nak? Untuk apa ,Nak?”.
Nah!, itulah hikmah besar dari kisah keluarga kecil tadi. Itu menentukan sikap kita terhadap harta. Jika kisah Abu Bakar RA meneladankan cara pandang tentang harta terkait darimana asal memperolehnya, sedangkan kisah keluarga kecil tadi adalah mengenai harta kita digunakan untuk apa.
Mengapa dua hal tentang harta itu penting kita perhatikan? Karena ini tentang masa depan, bukan hanya masa depan di dunia, tetapi lebih ke masa depan di akhirat. Tentang pertanyaan dari Allah kelak di hari perhitungan, “dengan cara apa kau memperoleh hartamu?” dan “untuk apa kau membelanjakan hartamu?”. Dalam riwayat Imam Al Baihaqi, Rasulullah bersabda : “ketika seorang hamba dihadapkan kepada Allah maka ditampakkanlah kepadanya semua nikmat yang telah Allah karuniakan padanya. Dan dia pun mengakui hal itu. Lalu diperlihatkan kepadanya semua amal yang telah dia lakukan dengan anugerah Rabbnya itu, hingga dia merasa sangat malu karenanya. Dia malu karena banyaknya hal nista yang tertampil di sana. Dia malu karena justru rizqi dari Yang Maha Memberi, dia gunakan untuk mendurhakai Sang Pengarunia. Rasa malu itu sangat parah mencekam jiwanya sampai-sampai keringatnya mengucur deras. Maka di hadapan hisab itu, hamba-hamba Allah akan tenggelam di dalam keringatnya sendiri. Ada yang tergenang hingga mata kaki. Ada yang terbenam hingga lutut. Ada yang terbenam hingga pundak. Dan ada yang tenggelam hingga kepala.”
Terbayang kengerian dari hisab terhadap harta, maka sepatutnya mulai sekarang kita harus memperhatikan dengan serius, bagaimana cara  memperoleh harta. Sudahkan bersumber dari yang halal dan kita dapatkan dengan proses yang halal pula. Kemudian, penting juga kita memiliki cita nan mulia terhadap pemanfaatan harta. Selayaknya, sebelum berpeluh berburu harta, kita hadirkan dulu dalam benak, kira-kira untuk apa nanti harta itu. Ini kita lakukan dengan harapan agar memperingan hisab harta karena telah kita siapkan jawabnya.
Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda : “sebaik-baik harta yang baik (dan halal)  adalah harta yang dimiliki seseorang yang sholih”. Dalam hadits yang lain, diriwayatkan “Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertaqwa. Dan sehat bagi orang yang bertaqwa itu kebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad). Peringatan akan kengerian hisab harta diiringi solusi cerdas dari Rasulullah berdasarkan hadits di atas. Sholih dan bertaqwa, dengan dua hal ini harta menjadi sarana amal yang insyaAllah bisa menjadi jalan ke surga. Maka, mari iringkan langkah diri untuk selalu bertambah sholih dan taqwa bersama dengan peluh kita dalam mencari harta dari sumber yang benar, dengan cara yang halal dan memanfaatkannya untuk langkah-langkah yang semakin mendekatkan ke pintu surga. [mukti_give].  
Baca Selengkapnya →

Sabar Saat Disakiti


  Fatimah, putri Rasulullah menangis terisak kala itu. Dengan gaya jumawa, Abu Jahal dan kawan-kawannya saling melempar tantangan, “Siapa diantara kalian yang berani menaruh kotoran unta di punggung Muhammad yang sedang bersujud itu?”. Beranjaklah salah seorang diantara mereka dan benar-benar menaruh kotoran unta di punggung Rasulullah. Rasulullah tetap dalam posisi sujudnya. Datanglah Fatimah, dengan menangis ia membersihkan kotoran yang berada di punggung Rasulullah. Sebuah penghinaan yang keji dari kafir Quraisy kepada Muhammad SAW yang mulia.
Beruntunlah kisah yang lain, bagaimana Rasulullah, manusia termulia mendapatkan perlakuan yang menghinakan. Dicaci, dimaki, dilempar batu, disebut sebagai orang gila, bodoh, tukang sihir, pembohong, diludahi dan bentuk penghinaan lain semuanya telah dialami oleh Rasulullah. Disinilah bagian dari kehendak Allah, tercermin dalam firman-Nya : Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (At Taubah : 128) . “berat terasa olehnya penderitaanmu”, jelas tersebut di ayat ini, bagaimana Rasulullah juga merasakan beratnya penderitaan seperti umat-umatnya. Rasulullah ikut merasakan suasana terancam dan terkekang ketika masa awal dakwah di Makkah. Rasulullah ikut merasakan kekurangan bahan makanan ketika diboikot oleh kaum Quraisy.  Rasulullah ikut merasakan sengitnya peperangan. Rasulullah ikut merasakan capek letihnya menggali parit dalam perang Khandaq, dan bahkan ikut mengganjal perutnya dengan tiga batu karena menipisnya logistik di perang itu. Rasulullah pun merasakan wajah beliau terluka dalam perang Uhud. Bahkan, di sisi-sisi terdalam, Rasulullah pun ikut merasakan bagaimana dalam kesehariannya, beliau tidur hanya dengan beralas tikar, hingga membekas di pipinya. Maka, dalam perjalanan dakwahnya, ketika Rasulullah mengajarkan tentang kesabaran, serta merta dakwahnya itu akan mudah untuk didengar dan ditaati, karena yang menyampaikan adalah orang yang sudah teruji sabarnya, yang menjadi contoh terbaik dalam menerapkan kesabarannya.
Tersebutlah kisah tentang ujian keimanan yang harus dirasakan oleh keluarga Sumayyah binti Khayyath. Sumayyah adalah seorang hamba sahaya milik Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah. Ia menikah dengan Yasir bin ‘Amir dan mempunyai anak bernama ‘Amar bin Yasir. Beranjak dewasa, anak ini tertarik pada kabar tentang munculnya nabi baru yang membawa risalah yang sempurna. Singkat cerita, ‘Amar masuk Islam dan langsung mengabarkan ke kedua orang tuanya. Akhirnya, keluarga kecil ini menjadi keluarga muslim. Akan tetapi,
ujian berat harus mereka hadapi untuk mempertahankan keimanan. Abu Hudzaifah marah mendengar keislaman keluarga ini. Setiap harinya, ketiga orang ini digelandang ke padang pasir yang sangat panas untuk disiksa. Sumayyah yang seorang wanita dilempar ke pasir, lalu tubuhnya ditimbun pasir yang sangat panas. Seakan belum puas, Sumayyah lalu ditindih dengan batu besar agar ia tidak bisa bernafas. Lalu mereka memaksanya untuk mengimani berhala-berhala. Namun wanita shalihah ini tetap bertahan dengan keyakinannya karena ingat janji Allah SWT bagi hamba-Nya yang bertaqwa, yaitu syurga. Yasir, Sumayyah, dan ‘Ammar terus mendapatkan siksaan yang sedemikian keji. Mereka didera, dicambuk, disalib di padang gurun yang terik, ditindih dengan batu panas, dibakar dengan besi panas, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka. Di kala sadar, tidak ada satupun kalimat yang terlontar dari mulut ketiganya kecuali kalimat ”Ahad..Ahad..” seperti yang dilontarkan Bilal bin Rabah. Hal ini tentunya semakin menyulut amarah orang Quraisy yang gagal membalikkan keimanan mereka. Hingga suatu masa, orang Quraisy merasa putus asa dengan kegigihan iman ketiganya, mereka memutuskan menghabisi nyawa sang Muslimah. Adalah Abu Jahal yang menjadi algojo. Dengan tombaknya yang runcing, dialah yang mengeksekusi Sumayyah. Nasib sang mujahidah berakhir ketika tombak Abu Jahal bersarang di dadanya. Menjelang wafatnya, tak sedetik pun Sumayyah menggadaikan keimanannya. Dengan segala yang dimilikinya, ia mempertahankan keyakinannya. Sumayyah binti Khayyath menjadi bukti kesabaran, ketabahan hati, kekuatan iman, dan ketangguhan jiwa. Ia rela mengorbankan segalanya, termasuk jiwa dan raganya demi iman Islamnya. Sumayyah binti Khayyath adalah syahidah pertama Islam. Ia syahid dengan meninggalkan teladan yang luar biasa. Tak heran ia menjadi sosok yang sangat mulia dengan keberaniannya. ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman" sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al Ankabut, 29 : 2).
Bersabar ketika disakiti, akhlak mulia yang sepatutnya kita tumbuhkan dalam diri. Hal ini memang akan terasa berat. Namun, telah begitu banyak manusia yang telah memberikan keteladanan sebagaimana kisah Rasulullah dan Sumayyah. Terlebih lagi, jika mau jujur, sakit yang kita alami, tentunya tidak sesakit apa yang pernah Rasulullah alami. Pernahkah kita sampai diludahi? Apakah kita sampai dilempar batu? Apakah kita sampai dilempar kotoran? Tentunya hal semacam ini sangat jarang terjadi di masa kini. Apalagi jika kita bandingkan dengan sakitnya Sumayyah, apakah kita sampai harus mengorbankan nyawa?. Artinya, sakit yang kita alami di masa sekarang ini, tidaklah pantas untuk kita terlalu mengeluhkannya, apalagi sampai mengatakan “kesabaranku habis!” padahal tidaklah seberapa rasa sakit itu jika dibanding dengan yang dirasakan Rasulullah dan para sahabat.
Kadang pun masih ada yang berdalih, bahwa jika sakitnya itu menyangkut fisik, mungkin akan lebih bisa untuk bersabar. Tapi bagaimana jika yang disakiti itu adalah hati dan perasaan? . jika ini masih saja dijadikan dalih untuk “boleh tidak bersabar”, maka ada baiknya, sekali lagi kita selami perjalanan para nabi. Kali ini tentang Nuh AS.
Dalam QS Nuh : 7 dikisahkan tentang ulah umat nabi Nuh yang begitu menyakitkan perasaan, “ Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat “. Terbayang bagaimana perasaan kita jika diperlakukan seperti itu? Saat kita berbicara, memberikan nasehat, kemudian lawan bicara kita memasukkan anak jari ke telinga dan menutupkan baju ke muka? Dan kemudian tetap berlaku sombong di hadapan kita. Bukankah ini hal yang paling menjengkelkan dalam proses komunikasi? Bukankah ini sangat menyakitkan perasaan dan hati? .
Dan kalaupun masih ada yang berdalih bahwa jika sakitnya itu cuma sebentar maka akan bisa bersabar dan akan habis kesabaran kalau sakitnya itu berlangsung lama dan berulang-ulang, maka tentang ini nabi Nuh akan memberikan jawaban. “ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. “ ( QS Al Ankabut : 14 ). Jadi, nabi Nuh harus menghadapi umatnya yang seperti itu selama 950 tahun, waktu yang sungguh lama. Dan beliau bertahan dalam kesabaran. Terus berdakwah dan berdakwah walaupun akhirnya juga hanya sedikit yang mau beriman bersama nabi Nuh. ."…. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” ( QS Hud : 40). Dan bahkan, tidak selesai sampai disini saja. Ketika sampai pada “akhir masa tugas” nabi Nuh, umatnya pun masih terus saja mengejek dan menyakiti. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. “ Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). “ ( QS Hud : 38 ). Dengan ejekan, itulah “salam perpisahan” umat nabi Nuh sebelum akhirnya Allah menurunkan banjir besar yang memenuhi bumi.
Telah sempurna teladan kesabaran yang diberikan para nabi dan para sahabat. Terus bersabar, dan menguatkan kesabaran. “ Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. “ (QS Ali ‘Imran : 200). Teladan kesabaran yang diberikan harusnya membuat tiada celah lagi untuk berdalih bahwa kesabaran kita sudah habis. Sakitnya fisik, sakitnya hati dan sakitnya perasaanya, seluruhnya bisa diobati dengan kesabaran. Sabarnya Rasulullah, sabarnya Sumayyah, sabarnya Nabi Nuh, ini yang harus kita jadikan pelajaran.
 Dalam hidup ini, cobaan dan ujian adalah keniscayaan. Allah berfirman : “Sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155). “Dan sesungguhnya, Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu...” (Muhammad: 31). Artinya, kita tidak bisa menghindari sunnatullah ini, dan jika ingin bisa lulus darinya, maka kuncinya adalah sabar.
Sabar ketika disakiti, ketika kita mampu melakukannya, maka Allah memberikan ganjaran yang mulia. Sebagaimana tersebut dalam QS Al Baqarah : 155 di atas, bahwa bagi orang-orang yang sabar akan diberikan kabar gembira dan kabar gembira ini adalah dari Allah, tentunya ini nikmat yang besar. Ganjaran yang lain adalah “...Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10). Dicukupkan pahala tanpa batas, ini adalah harga yang sangat pantas untuk kita perjuangan dengan bersabar, seperih apapun kita disakiti.
Dan tentunya, satu ayat yang sudah banyak dihafal orang para muslimin, innallaha ma’asshobiriin, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar (QS Al Baqarah : 153). Dibersamai Allah, tentu ini adalah nikmat yang sungguh besar. Merasakan kedekatan dengan Allah, sehingga hati kita merasa tenang dan tentram dalam kesabaran, maka inilah sumber kebahagiaan.

Semoga, setelah ini, tiada lagi alasan untuk tidak bersabar, sepedih apapun cobaan dan ujian yang kita rasakan. Mari kita maknai, sesakit apapun ia, maka ujian dan cobaan adalah bagian untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Jika ujian dan cobaan dari Allah adalah yang mudah-mudah saja, tentu kita tidak akan mendapatkan ganjaran yang hebat. Dengan sepenuh keimanan mari kita meyakini bahwa setiap detiknya ketika kita bersabar, maka disitulah cara kita untuk semakin mendekat ke surga-Nya. [mukti_give]
Baca Selengkapnya →

Ada yang Setia Mengawasi Kita

    
Perkenankan kami berbagi kisah dari buku karya Ahmad Zairofi AM, Lelaki Pendek, Hitam & Lebih Jelek dari Untanya, tentang seorang lelaki tua. Nasib lelaki tua itu benar-benar mengenaskan. Tragis. Ia telah enam belas tahun dikurung di penjara bawah tanah, di masa kekuasaan Al Muqtadir Billah. Tidak itu saja, sehari-hari ia harus menjalani hukuman menahan beban besi di tubuhnya.
Sebelumnya ia seorang pedagang sukses. Hidupnya lapang. Dengan penuh semangat ia mencari rezeki ke pasar. Tapi segalanya berubah sejak suatu malam yang belum lagi larut. Ia memenuhi undangan seorang temannya sesama pedagang pasar. Di tengah jalan, tiba-tiba ia melihat banyak lilin menyala di dekat sebuah toko. Di dekat lilin itu berserakan kayu. Sedang pintu toko itu sedikit terbuka.
Seketika ia berusaha menjauhkan api-api itu, sebab bila tidak akan membakar kayu-kayu dan kemudian toko itu. Ia bergegas melihat apa yang terjadi. Ia masuk ke toko itu, setelah sebelumnya menyingkirkan api yang mulai membakar kayu. Betapa terkejutnya ketika ia sampai di dalam toko, ada seonggok mayat lelaki yang baru saja terbunuh, dengan pisau yang masih menancap di dadanya.
Rupanya orang itu dibunuh, kemudian pelakunya hendak menghilangkan jejak dengan membakar toko itu. Seperti kisah-kisah klasik tentang kebakaran toko atau pasar di masa kini yang sulit dibedakan antara terbakar sendiri atau dibakar. Sejak dulu, kebakaran dan pembakaran, mungkin benar-benar hanya beda pada huruf-huruf awalnya, tapi tidak substansinya.
Pada saat ia ada di dalam toko itu, bersamaan dengan itu lewatlah para petugas ronda. Salah seorang mereka diperintahkan komandannya untuk masuk. Begitu masuk ke dalam toko, petugas ronda mendapati lelaki tua itu bersama seonggok mayat di dekatnya. Maka, tanpa ampun lagi, ia pun dituduh sebagai pembunuhnya.
Lelaki itu diseret ke tempat interogasi. Ia dipukuli, disiksa dengan tuduhan sebagai pembunuh. Tetapi ia tetap tidak mau mengaku, karena memang bukan dia yang melakukannya. Keluarganya berkumpul, membawa bukti-bukti dan saksi. Akhirnya ia tidak dihukum mati. Sebagai gantinya, ia dimasukkan ke penjara bawah tanah dengan siksaan yang tak pernah henti setiap hari.
Tahun demi tahun berlalu dengan penuh kepedihan. Ini benar-benar kesulitan diatas kesulitan. Enam belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Tapi lelaki itu tak pernah berhenti berharap. Kesulitan harus punya takdir selesainya. “Demi Allah, aku adalah orang yang terdzolimi. Apa pedulimu?! Demi Allah, aku tidak akan berputus asa dengan siksaan seperti ini dari mengharap anugerah Allah. Pasti sesaat demi sesaat kelapangan pasti akan tiba,” ucap lelaki itu kepada Abu Ali Al Wakil, seorang tokoh ulama di masa itu yang menemuinya di penjara bawah tanah.
Tiba-tiba terdengar suara sangat gaduh. Penjara dijebol dan banyak orang yang bisa menerobos ke penjara bawah tanah. Setelah itu, mereka mengeluarkan semua orang yang ada di sana, termasuk laki-laki tua tadi. Hari itu ternyata telah terjadi kekacauan besar melawan kekuasaan Al Muqtadir. Melengkapi kisah tanah Irak yang tak pernah berhenti bergolak, dari dulu hingga sekarang. Kisah Al Wakil tentang lelaki tua itupun berhenti disitu. Huru hara meluas, manusia berhamburan. Lelaki itu berjalan tertatih, lalu lenyap mengiringi Irak yang bergumul dalam pertikaian politik dan gejolak sosial.
Lelaki itu mungkin hanya meninggalkan sepotong kalimat,” Aku tidak akan berputus asa dari mengharap anugerah Allah.” Sepertinya sederhana, pendek dan sepintas hanya terkesan kalimat basa-basi orang-orang yang harus menghibur dirinya sendiri. Tapi sejujurnya, itulah inti segalanya.
Enam belas tahun bukan waktu yang singkat. Sepanjang itu, dia harus meyakini dua hal sekaligus. Yakin, bahwa dirinya tidak salah. Dan karenanya ia yakin akan pertolongan Allah. Itu keyakinan kedua yang lebih sulit. Sebab yang ia rasakan secara fisik benar-benar mengguncang. Seorang tua harus menanggung beban dan siksaan fisik dalam waktu selama itu.
Dan kalau boleh kami menambahkan, keyakinan ketiga yang dipegang erat oleh lelaki tua ini adalah tentang sifat Allah, yang Maha Tahu, Maha Melihat. Ketika di awal kisah ini kita tahu, dalam pandangan petugas ronda, tidak bisa dipungkiri bahwa lelaki tua ini adalah satu-satunya tersangka, karena sedang berada dalam toko dan bersamanya ada seonggok mayat. Itulah pandangan manusia. Akan tetapi, lelaki itu sangat paham bahwa Allah Maha Melihat, dan Allah pasti akan menunjukkan jalan kebenaran. Meyakini bahwa Allah Maha tahu, Maha Melihat dan karena itulah ia tak henti berharap.
Itulah rahasia iman. Orang-orang beriman selalu punya caranya sendiri untuk bisa menata hatinya, meski berlawanan dengan apa yang dilihat oleh matanya, atau apa yang dirasakan oleh fisiknya, atau apa yang ia terima dalam kehidupannya. Saat ia mendapat musibah, air matanya mengalir, tapi hatinya terilhami untuk meyakini bahwa apa yang diberikan Allah pada dirinya pasti yang terbaik baginya. Saat ia mendapatkan kesulitan demi kesulitan seakan berentetan tanpa ujung, fisiknya mungkin lelah. Kepalanya mungkin pusing. Pikirannya mungkin sangat penat. Tapi itu justru mengilhami hatinya untuk terus meyakini bahwa bila seorang diuji oleh Allah, itu tandanya Allah masih sayang dengan orang itu.
Allah Maha Tahu, Allah Maha Melihat. Kita harus berupaya menanamkan pemahaman yang benar tentang sifat Allah ini karena efeknya akan sangat baik bagi kehidupan kita. Yakin bahwa Allah Maha Melihat, maka kita tidak akan begitu mudah untuk berbuat maksiat. Di sisi lain, kita juga akan memiliki keteguhan untuk terus berbuat baik, walaupun mungkin tanpa tepuk tangan, pujian dan apresiasi yang pantas dari manusia, tetapi kita yakin bahwa Allah melihat amal kita itu, dan Allah pasti mencatatnya serta kelak pasti berbalas kebaikan pula dari-Nya. Hal jazaaul ihsan illal-ihsan. Tiada balasan untuk kebaikan melaikan kebaikan pula (Ar Rahmaan:60).
Jika kisah lelaki tua di atas adalah tentang keyakinan bahwa Allah Maha Melihat segala amal kebaikan dan kebenaran yang manusia lakukan sehingga menumbuhkan harapan, maka 2 kisah berikut ini adalah tentang keyakinan bahwa Allah Maha Melihat yang menumbuhkan sifat enggan bahkan takut pada diri manusia untuk berbuat salah dan maksiat.
Alkisah, suatu hari Sayyidina Umar bin Khattab berkeliling meninjau wilayah perkampungannya. Di tengah perjalanan, Umar melihat seorang budak kecil yang sedang menggembala puluhan kambing. Dalam benaknya, Umar ingin menguji kepintaran budak kecil si penggembala kambing tersebut. Umar lalu mendekati budak itu dan mengutarakan niatnya untuk membeli sebuah kambing yang digembala si bocah. “Nak, kambingmu saya beli satu boleh?” tanya Umar mengawali perbincangannya. “Saya ini budak, saya tidak memiliki kewenangan untuk menjual kambing ini. Semua kambing milik majikan saya tuan,” jawab si penggembala dengan kejujurannya. “Meski milik majikanmu, kalau saya beli satu nanti kamu laporan kepada majikan bahwa kambing yang kamu gembala dimakan macan satu ekor,” timpal Umar menguji dengan pura-pura mengajari sikap berbohong.
Dalam pikiran Umar, si budak ini pasti akan melepaskan satu ekor untuk dijual kepadanya. Namun tak diduga si Budak kecil ini memberikan jawaban lain. “Saya tidak mau melakukan itu tuan, karena semuanya nanti bisa kelihatan. Meski juragan (pemilik kambing) tidak tahu tetapi Allah akan mengerti dan mengetahui yang saya lakukan,” jawab si budak tegas. Mendengar jawaban itu, Sayyidina Umar seketika menangis seraya menepuk-nepuk bangga di pundak punggung si budak. Dari peristiwa ini, Sayyidina Umar mendapat ilmu dari bocah penggembala.
Kisah yang kedua, masih tentang Umar bin Khattab, kali ini dengan penjual susu. Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.
Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu. "Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini," kata anak perempuan itu. "Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit." "Benar anakku," kata ibunya. "Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak," harap anaknya. "Hmmm....., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan," kata ibunya.
Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu. "Nak," bisik ibunya seraya mendekat. "Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah." Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya. "Tidak, bu!" katanya cepat. "Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air." Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli. "Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu," gerutu ibunya kesal. "Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?" "Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita," kata ibunya tetap memaksa. "Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!"
"Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya, "tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang. Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya."Aku tidak mau melakukan ketidakjujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,"kata anak itu. Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.
 Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu. " Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!" gumam khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meniggalkan gubuk itu. Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya. Keesokan paginya, khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu. " Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya," kata khalifah Umar. " Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat." Ashim bin Umar menyetujuinya. Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab, yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Saudaraku, begitulah takdir Allah berlaku terhadap 2 kisah di atas, semuanya tentang keyakinan bahwa Allah Maha Melihat, Allah Maha Menyaksikan. Karena yakin Allah Maha Melihat, si penggembala kambing dan anak penjual susu enggan untuk berbuat curang walaupun secara kasat mata hal itu memberi keuntungan duniawi dan mungkin tidak akan ada manusia lain yang akan menyalahkan. Dan Allah menunjukkan dengan begitu nyata, keteguhan menahan diri dari berbuat curang itu langsung berbalas kebaikan dan kebahagiaan. Putri sang penjual susu menjadi menantu seorang khalifah dan menjadi Ibu dari khalifah termasyhur, Umar bin Abdul Aziz. Sekali lagi, inilah berkah dari cara pandang keimanan, yang kadang memang tidak selalu sejalan dengan nalar logika manusia. Yakini saja, itu kuncinya!. Maka, Marilah kita berusaha untuk juga meyakininya, agar kita istiqomah dalam kebaikan walaupun tanpa pujian dan tepuk tangan, dan kita punya keteguhan dalam bertahan menahan diri dari kemaksiatan, semuanya karena keyakinan bahwa Allah Maha Melihat, Allah Maha Menyaksikan. [mukti_give]
Baca Selengkapnya →

Rezeki tak pernah salah pintu

Saudaraku, tersebutlah kisah tentang Tsa’labah, sahabat Rasulullah yang rajin shalat berjama’ah di belakang Nabi. Namun, acapkali setelah tahiyat akhir terucap, ia langsung “kabur”. Mengapa sampai Tsa’labah bersikap seperti ini? Ternyata, Tsa’labah tidak memiliki kain kecuali yang ia kenakan. Itu pun harus dipakai bergantian dengan istrinya. Berulang kali Tsa’labah meminta Nabi Muhammad SAW mendoakannya agar mendapatkan rezeki yang lebih baik. “Hai Tsa’labah, karena aku menyayangimu, aku belum mau mendoakan kamu. Apakah kau tetap menjadi jama’ahku dan menjaga shalatmu?” begitu mungkin elak Rasulullah. Bukannya enggan mendo’akan, tetapi Rasulullah khawatir jika setelah Tsa’labah “maju”, ia lupa akan agamanya.
Tsa’labah terus mendesak, apalagi didukung oleh beberapa sahabat. Akhirnya, Rasulullah berkenan mendo’akan. Bahkan Rasulullah pun mencarikan permodalan untuk Tsa’labah, sepasang kambing untuk dipelihara oleh Tsa’labah. Singkat cerita, peternakan Tsa’labah maju pesat. Kekhawatiran Rasulullah menjelma menjadi kenyataan. Tsa’labah jarang terlihat di barisan jama’ah shalat. Tahulah Rasul bahwa ada perubahan pada diri Tsa’labah. Utusan Nabi selalu gagal mengingatkan Tsa’labah agar tetap ingat bahwa kematian akan datang dan saat itu tidak ada lagi satu kambing pun yang dibawa kecuali amal ibadah. Puncaknya adalah ketika Tsa’labah menolak untuk memberikan zakat. Padahal, kata Nabi, likulli ‘arba’ina syatan, syatun. Di setiap empat puluh ekor kambing itu satu ekor zakatnya. Tsa’labah menolak. Sekalipun memberi, ia memberi yang paling jelek, kambing yang kecil lagi sakit.
Hingga akhirnya para sahabat mengabarkan kepada Tsa’labah ucapan penolakan Nabi terhadap sikap Tsa’labah, wailaka ya Tsa’labah, wailaka ya Tsa’labah, Wailaka ya Tsa’labah…. Celaka engkau Tsa’labah, celaka engkau Tsa’labah, celaka engkau Tsa’labah. Tsa’labah pun pucat pasi mendengarnya. Ia tahu betul tidak ada ucapan manusia suci ini yang ditolak Allah. Pintu langit tidak sanggup menahan ucapannya dan kemudian membiarkan memberi jalan langsung ucapan tersebut menuju ‘arsy Allah. Ia tahu benar, makhluk suci bernama Muhammad ini adalah kekasih Allah diantara yang terkasih. Namun sayang, pengetahuan Tsa’labah dan keyakinan akan hal itu tidak mampu mengalahkan kilauan emas yang ia timbun. Sayang beribu kali sayang, kesadaran Tsa’labah ini “baru ada” setelah ucapan Nabi terucap, setelah kekayaannya di ambang kebinasaan. Lutut Tsa’labah bergetar hebat. Ia memohon supaya Nabi berkenan mencabut perkataannya. Bagi Tsa’labah, ucapan Nabi bagaikan surat pemberitahuan kematian bagi kerajaan bisnisnya. Yang harus kita perhatikan, ucapan Nabi ini secara universal akan berlaku juga bagi siapa saja yang berperilaku seperti Tsa’labah. Bisa ditebak, riwayat berakhirnya kesuksesan Tsa’labah. Kesuksesannya berakhir dengan kepiluan. Sebelumnya, ia memang menderita, tetapi tak pernah merasakan mewahnya dunia. Kini, ia menderita dan sudah pernah merasakan enaknya kemewahan. Hal itu tentu saja jauh menyakitkan. (dikutip dari buku Susah itu Mudah karya ustadz Yusuf Mansur)
Kemiskinan memang kerap membuat orang menjadi kufur. Namun, harta juga sering membuat orang menjadi jauh, jauh dari Tuhannya, sejauh jarak maghrib dengan masyriq, sejauh bentangan barat dengan timur. Inilah untaian indah dari sayyidina Ali Bin Abi Thalib RA. Semoga menjadi pengingatan bagi kita semua.
Masalah rezeki, menjadi salah satu hal yang sering menimbulkan kegalauan. Segalau Tsa’labah yang awalnya hanya memiliki selembar kain hingga sangat ingin dido’akan kemudahan rezeki oleh Rasulullah. Rezeki juga sering mengubah sikap seseorang dengan sangat drastis. Sebagaimana pelajaran yang bisa kita ambil dari Tsa’labah. Sampai akhirnya enggan berzakat, bahkan jadi jarang sholat berjama’ah bersama Rasulullah, padahal dulunya Tsa’labah sangat rajin sholat berjama’ah di belakang Rasulullah. Maka perlu kita ambil sikap yang bijak menghadapi masalah rezeki, hingga kita yakin bahwa rezeki tidak pernah salah pintu.
Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?" Katakanlah: "Allah", dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Saba’ : 24) . Ayat ini menjadi pedoman kita dalam menyikapi rezeki. Kita harus yakin bahwa rezeki itu ditentukan Allah. Maka, jika ingin mendapatkannya, haruslah kita semakin mendekat kepadaNya. Dan jika sudah mendapatkan yang kita inginkan, jangan sampai lupa bersyukur. Semakin bersyukur, maka rezeki itu akan semakin bertambah, dan jika kufur, maka azab Allah itu sangat pedih. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Ibrahim : 7)
Rezeki tak pernah salah pintu, tidak akan keliru, tidak akan pernah tertukar. Yang memberi rezeki itu hanya satu, seluruh rezeki hamba itu berada di sisi-Nya, dan Dia telah mengatur semua itu. Keyakinan seperti ini akan menumbuhkan harga diri. Jika memang yakin yang memberi rezeki itu adalah Allah, maka mengapa manusia itu kadang harus menjilat dan mengapa harus merendahkan diri di hadapan orang lain hanya karena ingin mendapatkan rezeki dari sesama manusia hingga akhirnya malah kehilangan harga diri? Mari kita kuatkan keyakinan akan rezeki dari Allah dengan merenungkan QS Adz Dzariyat : 22 “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.”
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (Ar Ruum :37). Ayat ini semoga semakin memahamkan diri kita tentang ketetapan rezeki dari Allah. Rezeki yang lapang maupun yang sempit, semuanya itu atas kehendak Allah. Tidak pada tempatnya jika ada diantara kita yang berlimpah rezekinya merasa begitu bangga bahkan kadang meng-klaim bahwa itu adalah hasil usaha kerja keras kita. Ingatlah, tanpa kehendak Allah, itu semua tidak akan pernah kita dapatkan. Begitu pula di sisi lain, tidaklah pantas kita begitu bersedih atas rezeki yang terasa sempit, hingga hidup kita penuh dengan keluhan bahkan putus asa. Dengan bersedih tidak akan membuat rezeki menjadi lapang, karena semua itu terjadi atas kehendak Allah. Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.(Asy Syuura : 27).  Yang perlu kita ingat, Allah tidak pernah memberi beban yang tidak sanggup kita pikul. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.(Al Baqarah : 286)
Saudaraku, Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Nilai setiap orang itu adalah kebaikan (yang dilakukan)nya”. Mari perhatikan pesan Ali bin Abi Thalib ini. Ini tentang nilai yang sebenarnya pada diri manusia. Ali menegaskan bahwa nilai manusia itu terletak pada kebaikan yang dilakukannya, bukan pada jumlah hartanya. Maka, pantaslah Rasulullah begitu khawatir kepada Tsa’labah jika akhinya setelah dianugerahi kekayaan dia melupakan kebaikan yang selama ini telak dilakukan, yaitu sholat berjama’ah dengan rajin. Jadi, tidaklah perlu kita begitu bersedih ketika ternyata harta kita tidak sebanyak orang lain, karena nilai kita tidak terletak di situ. Selama kita masih bisa berbuat kebaikan, maka kita masih memiliki nilai dan harga diri sebagai manusia dibandingkan dengan orang-orang yang mungkin dianugerahi harta yang melimpah tapi ternyata dengan itu dia tidak bisa banyak berbuat kebaikan, tapi justru terjerumus dalam lingkaran kejahatan.
Setelah kita memantapkan keyakinan akan ketetapan rezeki dari Allah, kita semakin yakin bahwa rezeki tak pernah salah pintu, mari kenali pintu-pintu rezeki, agar kita tahu cara memasukinya dan kita bisa meraih serta memanfaatkannya dengan cara yang penuh berkah. Allah berfirman dalam QS Saba’ : 39 Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya. Ayat ini memberi petunjuk bagaimana caranya agar rezeki yang kita dapatkan menjadi pembuka pintu rezeki yang lain, yaitu dengan menafkahkannya di jalan Allah. Dengan menggunakan rezeki sesuai dengan perintah Allah, maka ini bisa menjadi sarana pembuka pintu rezeki yang lain. Jadi, mari pandai-pandai kita memanfaatkan rezeki dengan berzakat, infaq, sedekah dan berbagai kebaikan yang lain. Jangan sampai kita seperti Tsa’labah, yang setelah dianugerahi rezeki berlimpah tapi lupa menafkahkannya di jalan Allah, lupa untuk berzakat, hingga mengundang kemarahan Rasulullah yang akhirnya berakibat tertutupnya pintu rezeki Tsa’labah, berujung kebangkrutan usaha peternakannya.
Ketika rezeki kita manfaatkan di jalan Allah, maka balasan Allah untuk amal ini begitu dahsyat. Mari kita simak QS Al Baqarah : 261 Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Kalau kita coba menghitung-hitung perumpamaan dari ayat di atas, maka 1 kali kita menafkahkan rezeki di jalan Allah akan berbalas minimal 700 kali lipatnya. Bukankah dengan ini begitu nampak jalan meraih kelapangan rezeki? Bukankah dengan ini pintu-pintu rezeki akan terbuka? MasyaAllah…
“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (H.R Bukhari) hadits ini juga memberikan jalan dilapangkannya rezeki, yaitu dengan menjalin silaturahim. Hadits ini di sisi lain juga  menunjukkan bahwa Allah itu memang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemurah dan Maha pemberi rezeki. Hanya dengan “sekedar” silaturahim, ternyata amal ini bisa menjadi pembuka pintu rezeki.
Saudaraku, dalam uraian di atas kita telah ketahui beberapa amal pembuka pintu rezeki, dan masih banyak amal-amal yang lain. Akan tetapi, ada 1 hal istimewa yang bisa kita jadikan kesimpulan sebagai amal pokok pembuka pintu rezeki. 1 hal ini tercantum dalam QS At Thalaq : 2-3. “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Ketaqwaan, inilah amal istimewa sebagai pembuka pintu rezeki. Tergambar dengan jelas di ayat tadi, bahwa dengan taqwa, maka Allah akan memberikan jalan keluar. Tidak hanya itu, ketaqwaan akan menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Lalu, ketaqwaan yang menumbuhkan tawakkal akan menjadi jalan dicukupkannya segala keperluan kita oleh Allah. MasyaAllah, bukankah ini yang selama ini kita inginkan? Terbukanya jalan keluar, berlimpahnya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, tercukupkan semua keperluan, inilah impian setiap manusia di muka bumi. Semua itu dijanjikan oleh Allah akan dipenuhi, jika kita bertaqwa.
Dalam bingkai taqwa, keyakinan tentang ketetapan rezki dari Allah akan bisa kita tumbuhkan. Dalam bingkai taqwa, kisah Tsa’labah akan bisa kita jadikan pelajaran hidup yang mendalam. Dalam bingkai taqwa, kita akan bisa menjaga nilai dan harga diri sebagai manusia yang tidak semata-mata terletak pada harta, namun terletak pada sejauh mana kita berbuat kebaikan. Dalam bingkai taqwa, kita akan begitu tulus mengeluarkan harta kita di jalan Allah. Dalam bingkai taqwa, kita akan bisa menjalin silaturahim dengan seerat-eratnya. Dan dalam bingkai taqwa, kita akan yakin bahwa rezeki tidak akan pernah salah pintu, tidak akan tertukar dan segala pemanfaatannya di jalan Allah akan berbalas dengan balasan yang pasti lebih baik, dan pasti berlipat ganda. Wallahua’lam bisshawab. [mukti_give]

   


Baca Selengkapnya →

Lisan, antara nikmat & laknat

Lukmanul Hakim, seorang hamba Allah yang saleh, yang terkenal dengan perkataannya yang sangat berbobot, pernah ditanya, “Hai Lukman, dari mana engkau mendapat hikmah ini?”. Lukman menjawab, “Dengan berkata jujur dan meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (Iyas, 2002:312)
Dikisahkan, suatu hari Raja meminta Lukman untuk mencarikan daging yang paling enak, maka Lukman membawakannya daging lidah dan hati. Pada hari lain, sang Raja meminta untuk dibawakan daging yang paling pahit, ternyata Lukman tetap membawakan daging lidah dan hati. Terjadilah dialog antara Raja dengan Lukmanul Hakim.
Raja bertanya : Mengapa ketika kuminta daging enak, kau membawa daging lidah dan hati, begitu juga ketika kuminta daging yang paling pahit engkau tetap membawakan daging yang sama ?
Lukman menjawab : Wahai Raja, ketahuilah bahwa kebaikan dan kepahitan seseorang tergantung pada dua daging yang ada pada dirinya, yaitu lidah dan hati. Jika hati dan lidahnya baik, maka baiklah orang tersebut. sebaliknya, jika lidah dan hatinya pahit serta buruk, maka buruklah orang tersebut.
Saudaraku, sebuah kisah yang sarat hikmah dari orang soleh, Lukmanul Hakim diatas semoga memberikan inspirasi tentang pentinglah lidah dan hati. Kali ini kita akan coba salami bersama tentang lidah atau lisan, yang mempunyai fungsi utama untuk kita berbicara, menyampaikan gagasan dan keinginan.
Lisan merupakan salah satu anugerah Allah SWT kepada manusia. “ Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. ” (Al Balad : 8-9). Sedangkan untuk fungsi utama lisan, Allah menegaskan dalam QS Ar Rahman : 1-4, “(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” Sebagaimana anugerah Allah lainnya yang diberikan kepada manusia, lisan mempunyai potensi untuk mengarahkan ke jalan taqwa atau menuju jalan keburukan, mendatangkan nikmat atau mendapatkan laknat, semuanya kembali kepada kita. “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya “ (Asy Syams : 8) .Allah telah memberikan semua perangkat dan petunjuk kepada manusia untuk memilih jalan mana yang ditempuh.
Kapan anugerah lisan benar-benar membawa nikmat? Maka mari coba kita telaah bagaimana Islam memberikan arahan dalam menjaga lisan. Salah satunya adalah berbiacara yang baik atau diam. Dalam hadits riwayat Bukhari Rasulullah bersabda “barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam” . dalam satu kondisi dimana kita tidak tahu apa yang harus diucapkan dan ada kekhawatiran bahwa jika berbicara tidak berkualitas, maka diam lebih diutamakan dan lebih didahulukan. Namun, apabila yang akan dibicarakan itu diyakini mengandung manfaat, maka berbicara pada saat itu adalah lebih utama daripada diam.
Orang yang cerdas adalah orang yang meletakkan hati & pikiran di depan lidahnya, artinya ia merasakan dan memikirkan dengan baik sebelum mengeluarkan kata-kata dari lisannya. Sedangkan orang yang bodoh akan bersikap sebaliknya, sering berbicara tanpa dipikir dan dinalar dengan baik. Hadits ini cukup untuk menjadi pengingat bagi kita : “sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dibanding jarah antara timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih).
Prinsip kehati-hatian dalam menggunakan lisan adalah aplikasi keimanan kepada Malaikat, yang termasuk dalam rukun Iman. Dalam QS Qaf : 18 Allah berfirman “Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkan kecuali di dekatnya ada malaikat Raqib dan Atid”. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat kita akan berbicara menggunakan lisan kita, antara lain Isi pembicaraan, sikap berbicara, situasi pembicaraan dan dampak pembicaraan.
Tentang isi pembicaraan, firman Allah dalam QS. Fushshilat : 33 ini bisa kita jadikan pedoman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?". Jadi, isi pembicaraaan yang terbaik adalah pembicaraan yang menyeru kepada dan mengajak untuk beramal sholih. Sudahkan pembicaraan kita berisi hal-hal tersebut? ataukah ternyata lisan kita terasa lebih nikmat ketika mengajak orang untuk membicarakan orang lain?! Mari beristighfar.
Berdasar petunjuk Al Qur’an, isi pembicaraan yang baik adalah yang berisi perkataan yang benar, qaulan sadida. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (Al Ahzab : 70). Ayat ini seharusnya menjadi peringatan, khususnya bagi bangsa kita yang sedang punya hajatan besar Pileg dan Pilpres yang mana sering para caleg dan capres mengumbar janji-janji , padahal mungkin saja hal itu sulit untuk ditepati. Maka, mari mulai dari diri kita sendiri untuk membiasakan perkataan yang benar, qaulan sadida.
Qaulan ma’rufa, perkataan yang baik juga merupakan prinsip yang harus kita pegang untuk menjaga lisan. Firman Allah “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (Al Baqarah : 263). Ayat ini menekankan di masalah sedekah. Kadang kita temui orang yang bersedekah tapi sambil mengungkapkan sesuatu yang di satu sisi ternyata menyakiti perasaan penerima sedekah itu. Jika hal ini terjadi, tentunya akan mengurangi pahala sedekah tersebut. kita harus benar-benar menjaga lisan saat bersedekah, jangan sampai dorongan nafsu ingin dipuji, ingin dihargai, ingin dianggap dermawan dan keinginan-keinginan lain akhirnya malah membuat sedekah kita berkurang nilainya di sisi Allah dan juga bisa menyakiti perasaan penerima sedekah. Mari hiasi lisan kita dengan qaulan ma’rufa.
Dalam QS Al Isra’ : 23 Allah berfirman “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. Di ayat ini ada istilah qaulan karima, perkataan yang mulia. Adab kepada orang tua menjadi inti dari ayat ini. Kadang, perkembangan zaman sedikit demi sedikit mengikis etika kesopanan kepada orang tua. Dengan dalih “bahasa gaul” akhirnya mengurangi nilai penghormatan kepada orang tua. Padahal sekedar berkata “ah” dengan nada membentak saja begitu dilarang di ayat ini. Semoga kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk memberikan bakti terbaik kepada orang tua, salah satunya dengan mempersembahkan qaulan karima untuk ayah dan ibu kita.
Terkait sikap berbicara, Allah juga memberikan petunjuk melalui ayat Al Qur’an. Ada istilah qaulan layyina di QS. Thaaha : 44 “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” Berbicara dengan lemah lembut adalah makna dari qaulan layyina. Ayat ini merupakan perintah Allah kepada Nabi Musa dan Harun saat akan mendatangi Fir’aun. Kepada Fir’aun yang dzolim saja Allah tetap memerintahkan untuk berbicara dengan lembut. Maka ini adalah adab Islam yang mulia untuk menjaga lisan kita. Walaupun kita tahu yang akan kita bicarakan adalah kebenaran, dan orang yang akan kita ajak bicara adalah orang yang melakukan kesalahan, tetaplah berbicara dengan lemah lembut. Sesungguhnya engkau tidak sehebat Musa dan aku tidak sejahat Fir’aun, tetapi Musa mendatangi Fir’aun dengan lemah lembut, inilah ungkapan salah seorang khalifah saat ada seorang da’I yang ingin menasehatinya tetapi dengan nada bicara yang keras dan kasar. Da’I adalah penyeru kebaikan, dan yang jadi sasaran adalah bagaimana bisa menyentuh hati orang yang dinasehatinya. Tabiat hati adalah selalu suka dengan perkataan yang lembut. Semoga qaulan layyina, kelembutan tutur kata menjadi penghias lisan kita.
Hal yang harus diperhatikan juga dalam berbicara adalah situasi pembicaraan. Salah satu situasi pembicaraan yang perlu disikapi dengan bijak adalah ketika situasi pembicaraan tersebut mengingkari kebenaran, bahkan ada ayat-ayat Allah yang diperolokkan, bagaimana sikap kita? . firman Allah QS An Nisaa’ : 140 “Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam”. Jika situasi pembicaraan seperti itu, ada dua kemungkinan sikap yang bisa dilakukan. Pertama, apabila keberadaan dalam pembicaraan tersebut bermaksud dan mampu menangkal pelecehan itu dengan berdakwah kepada mereka, maka keberadaan dalam majelis tersebut harus dipertahankan. Kedua, jika ternyata tidak mampu memberikan dampak positif di majelis tersebut, maka yang bersangkutan harus meninggalkannya. Ada sebagian orang yang berijtihad untuk tidak masuk ke dalam lembaga DPR karena menurut mereka dalam lembaga itu berlangsung pembicaraan yang melecehkan dam memperolok ayat-ayat Allah dan merendahkan kebenaran. Jika dilihat secara tekstual, hal ini tidak masalah. Akan tetapi, jika ditinjau dari kontekstual, dihubungkan dengan masa depan dakwah dan masa depan lembaga tersebut, maka ijtihad untuk memasukkan sebanyak mungkin orang-orang yang salih dan punya kemampuan argumen yang mumpuni untuk menangkal pendapat yang salah, maka hal ini lebih baik, In syaa Allah. Karena jika orang-orang yang baik mendominasi lembaga-lembaga tersebut, maka kebijakan yang dibuat pun akan mengarah ke kebaikan yang kita inginkan bersama.
Situasi lain adalah ketika kita dalam kondisi berbicara dengan lawan jenis, apa yang harus kita perhatikan? . prinsip dalam situasi pembicaraan dengan lawan jenis difirmankan Allah dalam QS An Nur : 30-31. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya….”. Usaha untuk menjaga pandangan saat berbicara dengan lawan jenis menjadi hal yang harus diperhatikan baik oleh pria maupun wanita. Jangan sampai hanya karena berawal dari pembicaraan yang kita anggap sederhana, akhirnya malah menjerumuskan ke hal-hal berbahaya, yang tentunya akan mengganggu perasaan, interaksi dan menimbulkan penyakit hati. Na’udzubillahi min dzalik.
Setelah isi pembicaraan, sikap berbicara dan situasi pembicaraan, maka 1 hal terakhir yang harus kita perhatikan agar lisan kita membawa nikmat adalah tentang dampak pembicaraan. QS Al An’am : 108 memberikan arahan mengenai hal ini : “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” . sebaik apapun pesan yang akan disampaikan kalau hal itu diprediksi akan berakibat buruk, maka sebaiknya ditangguhkan atau ditunda. Dalam bahasa perencanaan, maka hal ini mirip dengan prinsip begin from the end, kita pikirkan dulu baik-baik apa tujuan akhirnya, baru kemudian kita susun langkah mencapai tujuan tersebut. dampak dari pembicaraan kita harus dipikirkan & dinalar dulu , sehingga kita bisa menyusun isi pembicaraan yang tepat, sikap berbicara yang benar dan juga mencari situasi yang cocok untuk mencapainya. Semoga dengan ini semua, lisan kita benar-benar membawa nikmat, baik di dunia maupun di akhirat.
Saudaraku, tidak boleh kita lupakan bahwa selain potensi membawa nikmat, ternyata lisan juga berpotensi mengundang laknat. Dalam kondisi seperti apa lisan bisa membawa laknat? Mari kita pelajari bersama agar bisa menghindarinya.
Nabi Muhammad pernah bersabda “malu dan sedikit bicara merupakan bagian dari keimanan, sedangkan berkata-kata kasar dan banyak bicara merupakan bagian dari kemunafikan” (HR Timidzi). Pepatah tong kosong nyaring bunyinya nampaknya bermakna senada dengan hadits ini. Berbicara yang berlebihan adalah salah satu penyakit lisan yang harus kita hindari agar terbebas dari laknat.
Berbantahan dan debat kusir juga merupakan hal yang bisa mendatangkan laknat. Kita harus menjaga diri dari penyakit lisan ini.  Orang yang terjebak dalam perdebatan, akhirnya yang dicari bukanlah kebenaran dari hasil debat tersebut, akan tetapi yang ditujua akhirnya adalah bagimana pendapatnya yang dianggap benar sehingga dia merasa memenangkan perdebatan. Maka Rasulullah sangat menekankan untuk menghindari perdebatan sebagaimana sabda beliau “Aku menjamin rumah di sekeliling surga bagi orang yang meninggalkan pertengkaran walaupun ia yang berhak (benar) dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan perkataan dusta walaupun dalam bentuk gurau, dan rumah di ketinggian surga bagi orang yang baik budi pekertinya” (HR Abu Dawud)
Berbohong tentunya termasuk penyakit lisan yang bisa mendatangkan laknat. Ada satu kebohongan yang sangat dibenci Allah dan Rasulullah, yaitu berbohong dengan mengatasnamakan Rasulullah. “sesungguhnya berdusta dengan mengatasnamakan aku tidaklah sama dengan berdusta mengatasnamakan selain aku. Barangsiapa yang berdusta dengan mengatasnamakan aku secara sengaja, maka bersiaplah untuk mengambil tempat di neraka” (HR Bukhari Muslim). Jadi, mari berhati-hati ketika kita ingin menyandarkan pembicaraan kita kepada hadits-hadits Rasululullah, yakinkan dulu bahwa hadits itu memang benar-benar teriwayatkan dengan baik dan kita pernah membaca atau mendengarnya. Jika ternyata belum, lebih baik kita tunda untuk menyampaikannya.

Saudaraku, beberapa hal penting tentang lisan telah kita pelajari bersama, baik yang mendatangkan nikmat maupun yang bisa mengundang laknat. Mari bersama berusaha menjaga lisan agar anugerah Allah yang satu ini mampu menghantarkan kita ke surga-Nya. “barangsiapa mampu menjaga apa yang terdapat diantara dua janggutnya (lisan/mulut) dan apa yang ada diantara dua kakinya (kemaluan), maka aku jamin dia akan masuk surga” (Muttafaq ‘Alaih). [mukti_give]
Baca Selengkapnya →