Saudaraku, tersebutlah kisah tentang
Tsa’labah, sahabat Rasulullah yang rajin shalat berjama’ah di belakang Nabi.
Namun, acapkali setelah tahiyat akhir terucap, ia langsung “kabur”. Mengapa
sampai Tsa’labah bersikap seperti ini? Ternyata, Tsa’labah tidak memiliki kain
kecuali yang ia kenakan. Itu pun harus dipakai bergantian dengan istrinya.
Berulang kali Tsa’labah meminta Nabi Muhammad SAW mendoakannya agar mendapatkan
rezeki yang lebih baik. “Hai Tsa’labah,
karena aku menyayangimu, aku belum mau mendoakan kamu. Apakah kau tetap menjadi
jama’ahku dan menjaga shalatmu?” begitu mungkin elak Rasulullah. Bukannya
enggan mendo’akan, tetapi Rasulullah khawatir jika setelah Tsa’labah “maju”, ia
lupa akan agamanya.
Tsa’labah terus mendesak, apalagi
didukung oleh beberapa sahabat. Akhirnya, Rasulullah berkenan mendo’akan.
Bahkan Rasulullah pun mencarikan permodalan untuk Tsa’labah, sepasang kambing
untuk dipelihara oleh Tsa’labah. Singkat cerita, peternakan Tsa’labah maju
pesat. Kekhawatiran Rasulullah menjelma menjadi kenyataan. Tsa’labah jarang
terlihat di barisan jama’ah shalat. Tahulah Rasul bahwa ada perubahan pada diri
Tsa’labah. Utusan Nabi selalu gagal mengingatkan Tsa’labah agar tetap ingat
bahwa kematian akan datang dan saat itu tidak ada lagi satu kambing pun yang
dibawa kecuali amal ibadah. Puncaknya adalah ketika Tsa’labah menolak untuk
memberikan zakat. Padahal, kata Nabi, likulli
‘arba’ina syatan, syatun. Di setiap
empat puluh ekor kambing itu satu ekor zakatnya. Tsa’labah menolak.
Sekalipun memberi, ia memberi yang paling jelek, kambing yang kecil lagi sakit.
Hingga akhirnya para sahabat mengabarkan
kepada Tsa’labah ucapan penolakan Nabi terhadap sikap Tsa’labah, wailaka ya Tsa’labah, wailaka ya Tsa’labah,
Wailaka ya Tsa’labah…. Celaka engkau Tsa’labah, celaka engkau Tsa’labah, celaka
engkau Tsa’labah. Tsa’labah pun pucat pasi mendengarnya. Ia tahu betul
tidak ada ucapan manusia suci ini yang ditolak Allah. Pintu langit tidak
sanggup menahan ucapannya dan kemudian membiarkan memberi jalan langsung ucapan
tersebut menuju ‘arsy Allah. Ia tahu benar, makhluk suci bernama Muhammad ini
adalah kekasih Allah diantara yang terkasih. Namun sayang, pengetahuan
Tsa’labah dan keyakinan akan hal itu tidak mampu mengalahkan kilauan emas yang
ia timbun. Sayang beribu kali sayang, kesadaran Tsa’labah ini “baru ada”
setelah ucapan Nabi terucap, setelah kekayaannya di ambang kebinasaan. Lutut
Tsa’labah bergetar hebat. Ia memohon supaya Nabi berkenan mencabut
perkataannya. Bagi Tsa’labah, ucapan Nabi bagaikan surat pemberitahuan kematian
bagi kerajaan bisnisnya. Yang harus kita perhatikan, ucapan Nabi ini secara
universal akan berlaku juga bagi siapa saja yang berperilaku seperti Tsa’labah.
Bisa ditebak, riwayat berakhirnya kesuksesan Tsa’labah. Kesuksesannya berakhir
dengan kepiluan. Sebelumnya, ia memang menderita, tetapi tak pernah merasakan
mewahnya dunia. Kini, ia menderita dan sudah pernah merasakan enaknya
kemewahan. Hal itu tentu saja jauh menyakitkan. (dikutip dari buku Susah itu Mudah karya ustadz Yusuf
Mansur)
Kemiskinan
memang kerap membuat orang menjadi kufur. Namun, harta juga sering membuat
orang menjadi jauh, jauh dari Tuhannya, sejauh jarak maghrib dengan masyriq,
sejauh bentangan barat dengan timur. Inilah untaian indah
dari sayyidina Ali Bin Abi Thalib RA. Semoga menjadi pengingatan bagi kita
semua.
Masalah rezeki, menjadi salah satu hal
yang sering menimbulkan kegalauan. Segalau Tsa’labah yang awalnya hanya
memiliki selembar kain hingga sangat ingin dido’akan kemudahan rezeki oleh
Rasulullah. Rezeki juga sering mengubah sikap seseorang dengan sangat drastis.
Sebagaimana pelajaran yang bisa kita ambil dari Tsa’labah. Sampai akhirnya
enggan berzakat, bahkan jadi jarang sholat berjama’ah bersama Rasulullah,
padahal dulunya Tsa’labah sangat rajin sholat berjama’ah di belakang
Rasulullah. Maka perlu kita ambil sikap yang bijak menghadapi masalah rezeki,
hingga kita yakin bahwa rezeki tidak pernah salah pintu.
Katakanlah:
"Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?"
Katakanlah: "Allah", dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang
musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Saba’
: 24) . Ayat ini menjadi pedoman kita dalam menyikapi
rezeki. Kita harus yakin bahwa rezeki itu ditentukan Allah. Maka, jika ingin
mendapatkannya, haruslah kita semakin mendekat kepadaNya. Dan jika sudah
mendapatkan yang kita inginkan, jangan sampai lupa bersyukur. Semakin
bersyukur, maka rezeki itu akan semakin bertambah, dan jika kufur, maka azab
Allah itu sangat pedih. Dan (ingatlah
juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Ibrahim : 7)
Rezeki tak pernah salah pintu, tidak
akan keliru, tidak akan pernah tertukar. Yang memberi rezeki itu hanya satu,
seluruh rezeki hamba itu berada di sisi-Nya, dan Dia telah mengatur semua itu.
Keyakinan seperti ini akan menumbuhkan harga diri. Jika memang yakin yang
memberi rezeki itu adalah Allah, maka mengapa manusia itu kadang harus menjilat
dan mengapa harus merendahkan diri di hadapan orang lain hanya karena ingin
mendapatkan rezeki dari sesama manusia hingga akhirnya malah kehilangan harga
diri? Mari kita kuatkan keyakinan akan rezeki dari Allah dengan merenungkan QS
Adz Dzariyat : 22 “Dan di langit terdapat
(sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.”
Dan
apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki
bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu).
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Allah) bagi kaum yang beriman. (Ar Ruum :37).
Ayat ini semoga semakin memahamkan diri kita tentang ketetapan rezeki dari
Allah. Rezeki yang lapang maupun yang sempit, semuanya itu atas kehendak Allah.
Tidak pada tempatnya jika ada diantara kita yang berlimpah rezekinya merasa
begitu bangga bahkan kadang meng-klaim bahwa itu adalah hasil usaha kerja keras
kita. Ingatlah, tanpa kehendak Allah, itu semua tidak akan pernah kita
dapatkan. Begitu pula di sisi lain, tidaklah pantas kita begitu bersedih atas
rezeki yang terasa sempit, hingga hidup kita penuh dengan keluhan bahkan putus
asa. Dengan bersedih tidak akan membuat rezeki menjadi lapang, karena semua itu
terjadi atas kehendak Allah. Dan jikalau
Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui
batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan
ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha
Melihat.(Asy Syuura : 27). Yang perlu kita ingat,
Allah tidak pernah memberi beban yang tidak sanggup kita pikul. Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya.(Al Baqarah : 286)
Saudaraku, Ali bin Abi Thalib pernah
berkata, “Nilai setiap orang itu adalah
kebaikan (yang dilakukan)nya”. Mari perhatikan pesan Ali bin Abi Thalib
ini. Ini tentang nilai yang sebenarnya pada diri manusia. Ali menegaskan bahwa
nilai manusia itu terletak pada kebaikan yang dilakukannya, bukan pada jumlah
hartanya. Maka, pantaslah Rasulullah begitu khawatir kepada Tsa’labah jika
akhinya setelah dianugerahi kekayaan dia melupakan kebaikan yang selama ini
telak dilakukan, yaitu sholat berjama’ah dengan rajin. Jadi, tidaklah perlu
kita begitu bersedih ketika ternyata harta kita tidak sebanyak orang lain,
karena nilai kita tidak terletak di situ. Selama kita masih bisa berbuat
kebaikan, maka kita masih memiliki nilai dan harga diri sebagai manusia
dibandingkan dengan orang-orang yang mungkin dianugerahi harta yang melimpah
tapi ternyata dengan itu dia tidak bisa banyak berbuat kebaikan, tapi justru
terjerumus dalam lingkaran kejahatan.
Setelah kita memantapkan keyakinan akan
ketetapan rezeki dari Allah, kita semakin yakin bahwa rezeki tak pernah salah
pintu, mari kenali pintu-pintu rezeki, agar kita tahu cara memasukinya dan kita
bisa meraih serta memanfaatkannya dengan cara yang penuh berkah. Allah
berfirman dalam QS Saba’ : 39 Katakanlah:
"Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di
antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang
dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah
akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya. Ayat ini
memberi petunjuk bagaimana caranya agar rezeki yang kita dapatkan menjadi
pembuka pintu rezeki yang lain, yaitu dengan menafkahkannya di jalan Allah.
Dengan menggunakan rezeki sesuai dengan perintah Allah, maka ini bisa menjadi
sarana pembuka pintu rezeki yang lain. Jadi, mari pandai-pandai kita
memanfaatkan rezeki dengan berzakat, infaq, sedekah dan berbagai kebaikan yang
lain. Jangan sampai kita seperti Tsa’labah, yang setelah dianugerahi rezeki
berlimpah tapi lupa menafkahkannya di jalan Allah, lupa untuk berzakat, hingga
mengundang kemarahan Rasulullah yang akhirnya berakibat tertutupnya pintu
rezeki Tsa’labah, berujung kebangkrutan usaha peternakannya.
Ketika
rezeki kita manfaatkan di jalan Allah, maka balasan Allah untuk amal ini begitu
dahsyat. Mari kita simak QS Al Baqarah : 261 Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan
(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya)
lagi Maha Mengetahui. Kalau kita coba menghitung-hitung perumpamaan dari
ayat di atas, maka 1 kali kita menafkahkan rezeki di jalan Allah akan berbalas minimal
700 kali lipatnya. Bukankah dengan ini begitu nampak jalan meraih kelapangan
rezeki? Bukankah dengan ini pintu-pintu rezeki akan terbuka? MasyaAllah…
“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan
rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia
menyambung (tali) silaturahim.” (H.R Bukhari) hadits ini juga memberikan jalan dilapangkannya rezeki,
yaitu dengan menjalin silaturahim. Hadits ini di sisi lain juga menunjukkan bahwa Allah itu memang Maha
Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemurah dan Maha pemberi rezeki. Hanya dengan
“sekedar” silaturahim, ternyata amal ini bisa menjadi pembuka pintu rezeki.
Saudaraku, dalam uraian di atas kita
telah ketahui beberapa amal pembuka pintu rezeki, dan masih banyak amal-amal
yang lain. Akan tetapi, ada 1 hal istimewa yang bisa kita jadikan kesimpulan
sebagai amal pokok pembuka pintu rezeki. 1 hal ini tercantum dalam QS At Thalaq
: 2-3. “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Ketaqwaan, inilah amal istimewa sebagai
pembuka pintu rezeki. Tergambar dengan jelas di ayat tadi, bahwa dengan taqwa,
maka Allah akan memberikan jalan keluar. Tidak hanya itu, ketaqwaan akan
menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangka. Lalu, ketaqwaan yang menumbuhkan tawakkal akan menjadi jalan
dicukupkannya segala keperluan kita oleh Allah. MasyaAllah, bukankah ini yang
selama ini kita inginkan? Terbukanya jalan keluar, berlimpahnya rezeki dari
arah yang tidak disangka-sangka, tercukupkan semua keperluan, inilah impian
setiap manusia di muka bumi. Semua itu dijanjikan oleh Allah akan dipenuhi,
jika kita bertaqwa.
Dalam
bingkai taqwa, keyakinan tentang ketetapan rezki dari Allah akan bisa kita
tumbuhkan. Dalam bingkai taqwa, kisah Tsa’labah akan bisa kita jadikan
pelajaran hidup yang mendalam. Dalam bingkai taqwa, kita akan bisa menjaga
nilai dan harga diri sebagai manusia yang tidak semata-mata terletak pada
harta, namun terletak pada sejauh mana kita berbuat kebaikan. Dalam bingkai
taqwa, kita akan begitu tulus mengeluarkan harta kita di jalan Allah. Dalam
bingkai taqwa, kita akan bisa menjalin silaturahim dengan seerat-eratnya. Dan
dalam bingkai taqwa, kita akan yakin bahwa rezeki tidak akan pernah salah
pintu, tidak akan tertukar dan segala pemanfaatannya di jalan Allah akan
berbalas dengan balasan yang pasti lebih baik, dan pasti berlipat ganda.
Wallahua’lam bisshawab. [mukti_give]
