Rezekimu mencarimu

Dari Jaabir bin 'Abdullah radhiallahu 'anhuma berkata beliau:
Berkata Rasulullahi Shollallahu 'alaihi wa Sallam: "Walaupun anak cucu Adam lari dari rezekinya sebagaimana dia lari dari kematian, sudah pasti rezekinya akan menemui dia sebagaimana kematian menemui dia" ( Dishohihkan oleh al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta'ala dalam ash Shohihah )
Hadits ini berbicara tentang kematian yang dikaitkan dengan rezeki. Sebagaimana kematian pasti akan menemui kita sebagai manusia, begitu pula rezeki. Dengan tegas di hadits ini disebutkan bahwa sudah pasti rezeki akan menemui manusia sebagaimana kematian menemuinya. Jika kita memahami hadits ini dengan baik, maka pasti tidak akan ada kekhawatiran tentang masalah rezeki.
Rezekilah yang mencari pemiliknya. Rezekilah yang akan mencari kita, jangan khawatir! Tidak akan tertukar!. Selama kematian belum menemui kita, maka rezeki pasti tetap ada bagi kita. Kematian tidak akan datang kecuali jatah rezeki kita sudah habis. Selama masih tercatat sebagai manusia hidup, maka yakinlah rezeki pasti selalu ada.
Dalam hadits yang lain tersebutkan “Sesungguhnya rezeki itu akan mecari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.” HR. Thabrani. Hadits ini semakin menguatkan bahwa kita tidak perlu khawatir tentang rezeki selama kita masih hidup, Yakinlah, Rezekimu mencarimu!
Bukanlah Islam jika tidak mengajarkan sesuatu yang sempurna dan paripurna, tentang keseimbangan, tentang tawazun. Begitu pula tentang rezeki. Jika hadits di atas meyakinkan kita tentang rezeki yang pasti akan mencari pemiliknya, bukan berarti ini mengajarkan pasrah bongkokan, Cuma menunggu saja datangnya rezeki, sekedar tawakal tanpa ikhtiar. Bukan Islam kalau konsepnya seperti ini. Maka mari kita simak hadits berikut ini Dalam kitab Shahih Al Jami’ disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah Saw yang berbunyi, “Sesungguhnya malaikat Jibril menghembuskan ke dalam hatiku bahwasanya jiwa hanya akan mati sampai tiba masanya dan memperoleh rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah, carilah nafkah yang baik, jangan bermalas-malasan dalam mencari rezeki, terlebih mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan memberikan apa yang dicarinya kecuali dengan taat kepadaNya.”.
Hadits ini juga berbicara tentang rezeki dan kematian, yang intinya sama dengan 2 hadits sebelumnya. Namun, hubungan kematian dan rezeki di hadits ini dilengkapi dengan sisi-sisi manusiawinya, tentang sebab akibatnya. Diberikan cara untuk menjemput rezeki di hadits ini. Pertama, bertaqwa kepada Allah SWT. Ketaqwaan memang selalu menjadi jurus “sapu jagad” dalam menggapai segala cita kita sebagai manusia.
Langkah menjemput rezeki yang kedua, adalah dengan mencari nafkah yang baik. Marilah menjemput rezeki dengan cara yang baik dan halal, yang kita tuju pun sesuatu yang baik dan selanjutnya diiringi dengan cara pemanfaatan yang baik pula. Dengan begini rezeki kita akan penuh keberkahan.
Ketiga, mari menjemput rezeki dengan tidak bermalas-malasan. Perlu kita renungkan hadits berikut dari Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “ Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian, seperti Allah memberikan rezeki kepada seekor burung. Ia pergi (dari sarangnya) di pagi hari dalam keadaan perut yang kosong (lapar), dan kembali (ke sarangnya) di sore hari dalam keadaan perut yang penuh (kenyang)”. ( Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dan Al-Hakim. Dan At-Tirmidzi berkata, “Hasan Shahih”.) . Allah menjamin rezeki semua makhluknya, termasuk rezeki bagi burung-burung. Namun, tentang rezeki burung-burung ini, tertulis jelas di hadits tersebut bahwa burung pun perlu “pergi dari sarangnya” untuk menjemput rezeki agar yang awalnya lapar menjadi kenyang. Ada usaha untuk keluar dari sarang, tidak hanya berdiam diri saja. Maka, jangan kalah dengan burung, mari berusaha sekuat tenaga dalam menjemput rezeki, diiringi tawakkal akan kepastian jatah rezeki dari Allah SWT.
Langkah yang keempat adalah menghindari kemaksiaatan dalam proses kita menjemput rezeki karena rezeki yang berkah hanya berasal dari cara yang baik dan halal. Mari berhati-hati karena di masa sekarang kadang semakin sulit membedakan antara jalan yang baik dan yang buruk dalam menjemput rezeki. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk kepada kita.

Langkah-langkah di atas akan menyempurnakan keyakinan kita tentang kepastian rezeki dari Allah. Selama kita masih hidup, maka pasti ada jatah rezeki untuk kita. Yakinlah, Rezekimu mencarimu! . Wallahua’lam bisshawab. [mukti_give]