Izinkan Aku Berzina !

Diriwayatkan dalam sebuah hadits yang cukup panjang seperti diungkapkan Abu Umamah : "Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan, 'Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.' Saat itu,orang-orang yang ada di situ membentaknya seraya mengatakan, 'Mah, mah!' Sementara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu untuk mendekat. 'Mendekatlah,' ajak beliau. Pemuda itu pun mendekat.
Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bertanya, 'Sukakah engkau kalau hal ini terjadi pada ibumu?' 'Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,' jawabnya. 'Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka,' jelas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada pemuda itu. Kemudian beliau ajukan pertanyaan lagi, 'Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada anak perempuanmu?' Ia Jawab, 'Tidak, demi Allah, Allah menjadikan diriku sebagai jaminanmu' Beliau jelaskan lagi, 'Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada anak perempuan mereka.' Kemudian beliau tanya, 'Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?' Pemuda itu menjawab, 'Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu' Lalu beliau bersabda, 'Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka.' 'Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (ammah / saudara perempuan bapak)?' Tanya beliau kembali. Dijawabnya, 'Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu' Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam nyatakan, 'Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi mereka.' Beliau berikan lagi pertanyaan, 'Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (khalah / saudara perempuan ibu)?' Jawab pemuda itu, 'Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu.' Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menuturkan, 'Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi (khalah) mereka.' "
Selanjutnya Abu Umamah menyatakan : "Maka Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan : 'Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.' " (Kisah ini dinukil dari HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah no. 370)
Begitulah Rasulullah, selalu memberikan keteledanan yang mulia. Bayangkan situasi tersebut terjadi pada kita. Ada pemuda yang minta izin untuk berbuat zina, apa sikap kita? Secara umum, pastilah kita jengkel, kita ingin membentaknya dan ekspresi kemarahan yang lain. Tetapi Rasulullah berbeda, beliau justru begitu lembut menghadapi pemuda yang meminta izin untuk berzina.
Allah berfirman Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS Al Furqan : 63). Inilah yang ditunjukkan oleh Rasulullah. ketika ada pemuda jahil/ingin berbuat jahil datang menyapa, maka justru yang diucapkan oleh Rasulullah adalah kata-kata yang mengandung keselamatan. Perkataan yang dianjurkan oleh Islam terhadap kelompok orang jahil ini adalah perkataan yang mengandung keselamatan, bukan yang membuat mereka putus harapan atau berkecil hati. Dengan kata-kata yang mengandung keselamatan & disampaikan dengan lembut, maka akan tercipta suasana pembelajaran. Selalu ada kemungkinan bahwa orang-orang jahil itu melakukan kesalahan bukan karena watak mereka yang buruk, melainkan karena kurangnya ilmu  dan rendahnya pemahaman.
“Kita itu da’I (penyeru/pengajak), bukan hakim!”, inilah salah satu nasehat dari tokoh dakwah Islam dari Mesir, Hasan Al Banna. Kadang kita jumpai reaksi penghakiman kepada golongan orang-orang jahil tadi. Gaya menuding, menghujat dan menghakimi kadang lebih sering kita praktekkan daripada gaya lembut dan santun dalam menyeru dan mengajak. Berlemah lembutlah dan jauhilah kekerasan serta kekejian. Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan dia akan menjadikannya indah, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan menjadikannya buruk”. (HR. Muslim). Sejahil dan sejahat apapun, hati manusia pasti masih lebih menyukai kelembutan dan ucapan yang mengabarkan keselamatan. Mari lembutkan hati dan lisan kita agar bisa berbicara yang mengandung keselamatan. [mukti_give]