“PHP”, Oh No!!!


“Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggung­jawab­annya.”
(QS Al-Isra`: 34).
           
            Begitu licinnya lidah kita untuk meluncurkan kata-kata. Ketika kata-kata itu meluncur, kita nggak bisa menjamin ia akan mendarat dengan “aman” sampai kita memastikan bahwa kita telah memegangnya erat-erat. Dalam kehidupan seorang muslim, menjaga rahasia dan menepati janji adalah dua hal yang sangat penting. Ini merupakan letak kesejatian nilai diri seseorang, baik di hadapan dirinya sendiri maupun orang lain, bahkan dalam pandangan Allah Rabbul ‘izzah.
Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Betapa banyak orangtua yang mudah mengobral janji kepada anaknya tapi tak pernah menunaikannya. Betapa banyak orang yang dengan entengnya berjanji untuk bertemu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang berhutang namun menyelisihi janjinya. Bahkan meminta udzur pun tidak. Padahal, Rasulullah telah banyak memberikan teladan dalam hal ini. Termasuk larangan keras menciderai janji dengan orang-orang kafir, apalagi dengan sesama muslim. Iya, apa iyes?
Manusia dalam hidup ini pasti ada keterikatan dan pergaulan dengan orang lain. Maka setiap kali seorang itu mulia dalam hubungannya dengan manusia dan terpercaya dalam pergaulannya bersama mereka, maka akan menjadi tinggi kedudukannya dan akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sementara seseorang tidak akan bisa meraih predikat orang yang baik dan mulia pergaulannya, kecuali jika ia menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang terpuji. Dan di antara akhlak terpuji yang terdepan adalah menepati janji.
Pernah mendengar istilah “PHP”?? Atau ada yang pernah menceritakan pengalaman di-PHP-in? Atau kamu malah termasuk salah satu pelaku PHP??? Wala wala... Sante, bro n’ sist, tulisan ini bukan ditulis untuk menghakimi tersangka-tersangka tindak PHP kok. Lebih kepada berbicara tentang arti “janji” yang keluar dan mungkin lupa kamu pertanggungjawabkan.
            Banyak orang yang merasa di-PHP sementara yang dituduh tidak mengaku bersalah, bahkan sama sekali tidak merasa bersalah. Lalu kalau sudah begitu, salah siapa? Yang jelas, bukan salah bunda mengandung J. Mungkin tak akan menjadi masalah jika itu adalah hal yang kecil. Tapi, jika itu sudah menjadi kebiasaan.. saya rasa bukan tidak mungkin untuk menjadi terbiasa mem-PHP dengan tampang tanpa dosa. Misalnya, ketika temanmu mengeluh, “Aduh aku lapar, sejak pagi belum makan”. Lalu kamu dengan tenangnya mengatakan, “Tenang saja, nanti ku traktir makan...”. Pada saat itu, walaupun kamu berbicara dengan nada bercanda, tapi temanmu sedang tidak bercanda tentang rasa laparnya yang pada akhirnya ia marah ketika kamu tidak jadi mentraktirnya makan dengan alasan apapun. Memang sih, tidak semua orang seperti itu, ada juga teman yang begitu sabar walaupun berkali-kali kita ­PHP-in. Tapi, jumlah orang sabar di dunia ini tuh minoritas. Jadi, jangan menuntut orang lain untuk bersabar sementara dirimu dengan enaknya menguji kesabaran mereka tanpa silabus dan kisi-kisi yang jelas.
Janji menjadi menu pergaulan kita dalam kehidupan sehari-hari. Dan, janji termasuk tipe pekerjaan ringan. Mudah sekali diucapkan. Makanya, sebab pekerjaan ringan, orang-orang pun jadi ringan pula berjanji. Walaupun ringan diucapkan, bukan berarti setiap janji tidak memiliki konsekuensi. Tabiat janji mesti dipenuhi dan ditepati.
            Jadi, sebelum kamu berani bilang ini itu yang bisa disimpulkan menjadi “janji”, buat komitmen pada dirimu sendiri untuk tetap menepatinya apapun yang terjadi. Dan ingat! Janji itu merupakan hal yang baik, bukan sesuatu yang mencelakakan. Berjanji untuk melakukan hal buruk/ terlarang, bukanlah suatu janji tapi keburukan.
            Tidak menepati janji, merupakan salah satu ciri orang munafik. Mengapa demikian? Karena apa yang ia ucapkan tidak sesuai dengan apa yang ia lakukan. Ia berkata akan melakukan ini, tapi ia tak benar-benar merealisasikannya dan berakhir pada “omdo” alias omong doang. Dalam kehidupan sosialnya, ia mungkin akan dicap sebagai pendusta atau bahasa gaulnya PHP_ Pemberi Harapan Palsu. Baik itu kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, pastikan janji itu tertunaikan dengan baik karena Allah.
            Kita ga’ berhak memberikan harapan-harapan kosong kepada orang lain, karena itu akan sangat menyakitkan jika kita mengingkarinya. Jika hal ini berlanjut, bisa jadi kepercayaan orang kepada kita akan luntur dan larut dalam pusaran kedustaan. Lebih baik kita mengatakan hal-hal yang mudah dijangkau dan sesuai realita, daripada membual tentang hal-hal yang di luar kekuasaan kita.
            Jadilah orang yang amanah, yang senantiasa memegang janji-janjinya tanpa berusaha lari dari kenyataan yang itu tak akan memberikan keselamatan. Ketika kita lari dari suatu kenyataan, sejatinya kita sedang berlari menuju kenyataan yang lain. Syukur alhamdulillah jika kita tidak tersesat di jalan. Jadi, perhatikan rambu-rambu di jalan J.

            Terkait dengan itu semua, hanya Allah yang maha menepati janji. Janji Allah itu PASTI, tinggal bagaimana kita memastikan diri mendapatkan janji. So, Keep Your Promise, Please! J. PHP?? Oh, No!!