“Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti
dimintai pertanggungjawabannya.”
(QS Al-Isra`: 34).
Begitu
licinnya lidah kita untuk meluncurkan kata-kata. Ketika kata-kata itu meluncur,
kita nggak bisa menjamin ia akan mendarat dengan “aman” sampai kita memastikan
bahwa kita telah memegangnya erat-erat. Dalam kehidupan seorang muslim, menjaga
rahasia dan menepati janji adalah dua hal yang sangat penting. Ini merupakan
letak kesejatian nilai diri seseorang, baik di hadapan dirinya sendiri maupun
orang lain, bahkan dalam pandangan Allah Rabbul ‘izzah.
Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk
ditunaikan. Betapa banyak orangtua yang mudah mengobral janji kepada anaknya
tapi tak pernah menunaikannya. Betapa banyak orang yang dengan entengnya
berjanji untuk bertemu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula
orang yang berhutang namun menyelisihi janjinya. Bahkan meminta udzur pun
tidak. Padahal, Rasulullah telah banyak memberikan teladan dalam hal ini. Termasuk
larangan keras menciderai janji dengan orang-orang kafir, apalagi dengan sesama
muslim. Iya, apa iyes?
Pernah mendengar istilah “PHP”?? Atau ada yang pernah menceritakan pengalaman di-PHP-in? Atau kamu malah termasuk salah
satu pelaku PHP??? Wala wala... Sante,
bro n’ sist, tulisan ini bukan ditulis untuk menghakimi tersangka-tersangka
tindak PHP kok. Lebih kepada berbicara tentang arti “janji” yang keluar dan
mungkin lupa kamu pertanggungjawabkan.
Banyak
orang yang merasa di-PHP sementara
yang dituduh tidak mengaku bersalah, bahkan sama sekali tidak merasa bersalah.
Lalu kalau sudah begitu, salah siapa? Yang jelas, bukan salah bunda mengandung J. Mungkin tak akan menjadi masalah jika itu
adalah hal yang kecil. Tapi, jika itu sudah menjadi kebiasaan.. saya rasa bukan
tidak mungkin untuk menjadi terbiasa mem-PHP
dengan tampang tanpa dosa. Misalnya, ketika temanmu mengeluh, “Aduh aku
lapar, sejak pagi belum makan”. Lalu kamu dengan tenangnya mengatakan, “Tenang
saja, nanti ku traktir makan...”. Pada saat itu, walaupun kamu berbicara dengan
nada bercanda, tapi temanmu sedang tidak bercanda tentang rasa laparnya yang
pada akhirnya ia marah ketika kamu tidak jadi mentraktirnya makan dengan alasan
apapun. Memang sih, tidak semua orang seperti itu, ada juga teman yang begitu
sabar walaupun berkali-kali kita PHP-in.
Tapi, jumlah orang sabar di dunia ini tuh minoritas. Jadi, jangan menuntut
orang lain untuk bersabar sementara dirimu dengan enaknya menguji kesabaran
mereka tanpa silabus dan kisi-kisi yang jelas.
Janji
menjadi menu pergaulan kita dalam kehidupan sehari-hari. Dan, janji termasuk
tipe pekerjaan ringan. Mudah sekali diucapkan. Makanya, sebab pekerjaan ringan,
orang-orang pun jadi ringan pula berjanji. Walaupun ringan diucapkan, bukan
berarti setiap janji tidak memiliki konsekuensi. Tabiat janji mesti dipenuhi
dan ditepati.
Jadi,
sebelum kamu berani bilang ini itu yang bisa disimpulkan menjadi “janji”, buat
komitmen pada dirimu sendiri untuk tetap menepatinya apapun yang terjadi. Dan
ingat! Janji itu merupakan hal yang baik, bukan sesuatu yang mencelakakan.
Berjanji untuk melakukan hal buruk/ terlarang, bukanlah suatu janji tapi
keburukan.
Tidak
menepati janji, merupakan salah satu ciri orang munafik. Mengapa demikian?
Karena apa yang ia ucapkan tidak sesuai dengan apa yang ia lakukan. Ia berkata
akan melakukan ini, tapi ia tak benar-benar merealisasikannya dan berakhir pada
“omdo” alias omong doang. Dalam kehidupan sosialnya, ia mungkin akan dicap
sebagai pendusta atau bahasa gaulnya PHP_
Pemberi Harapan Palsu. Baik itu kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,
pastikan janji itu tertunaikan dengan baik karena Allah.
Kita ga’
berhak memberikan harapan-harapan kosong kepada orang lain, karena itu akan
sangat menyakitkan jika kita mengingkarinya. Jika hal ini berlanjut, bisa jadi
kepercayaan orang kepada kita akan luntur dan larut dalam pusaran kedustaan.
Lebih baik kita mengatakan hal-hal yang mudah dijangkau dan sesuai realita,
daripada membual tentang hal-hal yang di luar kekuasaan kita.
Jadilah
orang yang amanah, yang senantiasa memegang janji-janjinya tanpa berusaha lari
dari kenyataan yang itu tak akan memberikan keselamatan. Ketika kita lari dari
suatu kenyataan, sejatinya kita sedang berlari menuju kenyataan yang lain.
Syukur alhamdulillah jika kita tidak tersesat di jalan. Jadi, perhatikan
rambu-rambu di jalan J.
Terkait
dengan itu semua, hanya Allah yang maha menepati janji. Janji Allah itu PASTI,
tinggal bagaimana kita memastikan diri mendapatkan janji. So, Keep Your Promise, Please! J. PHP?? Oh, No!!