Romansa Agar-Agar

dan jam dinding di ruang tengah. Dia bingung sendiri.
“Kak… Kak Kika?” Dodo memanggil kakaknya. Tidak ada jawaban. Dodo bertopang dagu sambil mulai berpikir. Dia terlanjur kekenyangan agar-agar, tidak bisa makan nasi lagi. Tapi kalau tidak makan, pasti nanti Ibu marah.
“Gini aja. Aku bilang Kak Kika, biar Kak Kika makan lebih banyak. Terus minta tolong Kak Kika buatkan agar-agar lagi, katanya tadi kan bisa. Kalau ibu pulang, agar-agarnya udah ada lagi, makanannya juga udah berkurang banyak. Aku nggak akan dimarahi Ibu,” ide itu muncul begitu saja di otak Dodo. “Tapi kalau Kak Kika nggak bener-bener bisa bikin agar-agar, bisa gawat,” pikirnya lagi. “Ya udah, tanya Kak Kika dulu. Kalau beneran bisa, nanti aku bantu bikin agar-agarnya.”
Dodo beringsut mencari kakaknya. Tadi sempat dilihatnya Kika berjalan ke arah dapur. Ternyata kakaknya memang di dapur. Dia melihat Kika menuang sesuatu seperti sirup berwarna hijau ke dalam kotak bekal makan di meja dapur.
“Kak… Kak Kika, tolongin Dodo dong Kak,” ujar Dodo.
Ngapain nolong-nolong Dodo? Dodo kan jahat, suka asal nuduh,” tukas Kika ketus. Bibirnya kembali maju. “Wah gawat, Kak Kika marah,” batin Dodo.
“Kak Kika masak apa tuh?” pancing Dodo setelah terdiam sesaat.
“Agar-agar. Salah sendiri tadi diajak nggak mau. Enggak tahu caranya kan? Week!” Kika mencibir mengejek Dodo.
“Yah, kok agar-agarnya warna ijo? Nggak sama dong kayak bikinan ibu!”
“Terserah Kak Kika dong, kan yang bikin Kak Kika.
Dodo tersentak. Dia mulai menyadari kesalahannya. Balita itu menyesal. “Kak Kika,” katanya kemudian, “maafin Dodo, Kak.” Dodo tertunduk, Kika mengernyitkan dahi. “Tadi Dodo kira Kak Kika pura-pura, dan mau minta agar-agar punya Dodo,” lanjutnya. “Tapi sekarang malah Dodo abisin semua agar-agarnya. Dodo kekenyangan Kak. Dodo nggak kuat makan nasi lagi.”
Ganti Kika yang tersentak. “Wah iya ya. Kok Kak Kika malah bikin agar-agar lagi? Agar-agarnya tadi kan dah cukup. Harusnya kita makan nasi.” Kika garuk-garuk kepala. Dodo menjelaskan gagasannya. “Tapi agar-agar ini ijo. Terus gimana Kak?”

Kika pun menjawab bijak, “jujur itu lebih baik, Dik.”