dan
jam dinding di ruang tengah. Dia bingung sendiri.
“Kak…
Kak Kika?” Dodo memanggil kakaknya. Tidak ada jawaban. Dodo bertopang dagu
sambil mulai berpikir. Dia terlanjur kekenyangan agar-agar, tidak bisa makan
nasi lagi. Tapi kalau tidak makan, pasti nanti Ibu marah.
“Gini aja. Aku bilang Kak Kika, biar Kak
Kika makan lebih banyak. Terus minta tolong Kak Kika buatkan agar-agar lagi,
katanya tadi kan bisa. Kalau ibu
pulang, agar-agarnya udah ada lagi,
makanannya juga udah berkurang
banyak. Aku nggak akan dimarahi Ibu,”
ide itu muncul begitu saja di otak Dodo. “Tapi kalau Kak Kika nggak bener-bener bisa bikin agar-agar,
bisa gawat,” pikirnya lagi. “Ya udah,
tanya Kak Kika dulu. Kalau beneran
bisa, nanti aku bantu bikin agar-agarnya.”
Dodo
beringsut mencari kakaknya. Tadi sempat dilihatnya Kika berjalan ke arah dapur.
Ternyata kakaknya memang di dapur. Dia melihat Kika menuang sesuatu seperti
sirup berwarna hijau ke dalam kotak bekal makan di meja dapur.
“Kak…
Kak Kika, tolongin Dodo dong Kak,” ujar Dodo.
“Ngapain nolong-nolong Dodo? Dodo kan jahat, suka asal nuduh,” tukas Kika
ketus. Bibirnya kembali maju. “Wah gawat, Kak Kika marah,” batin Dodo.
“Kak
Kika masak apa tuh?” pancing Dodo setelah terdiam sesaat.
“Agar-agar.
Salah sendiri tadi diajak nggak mau. Enggak tahu caranya kan? Week!” Kika mencibir
mengejek Dodo.
“Yah,
kok agar-agarnya warna ijo? Nggak
sama dong kayak bikinan ibu!”
“Terserah
Kak Kika dong, kan yang bikin Kak
Kika.
Dodo
tersentak. Dia mulai menyadari kesalahannya. Balita itu menyesal. “Kak Kika,”
katanya kemudian, “maafin Dodo, Kak.”
Dodo tertunduk, Kika mengernyitkan dahi. “Tadi Dodo kira Kak Kika pura-pura,
dan mau minta agar-agar punya Dodo,” lanjutnya. “Tapi sekarang malah Dodo abisin semua agar-agarnya. Dodo
kekenyangan Kak. Dodo nggak kuat
makan nasi lagi.”
Ganti
Kika yang tersentak. “Wah iya ya. Kok Kak Kika malah bikin agar-agar lagi?
Agar-agarnya tadi kan dah cukup.
Harusnya kita makan nasi.” Kika garuk-garuk kepala. Dodo menjelaskan
gagasannya. “Tapi agar-agar ini ijo. Terus gimana Kak?”
Kika
pun menjawab bijak, “jujur itu lebih baik, Dik.”