Kuncinya : keyakinan

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan,
dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai”
(HR. Tirmidzi)

            Menulis sebuah kisah inspirasi adalah proses yang membawa kita menyusuri lorong-lorong hikmah di balik sebuah kisah. Tentang apapun itu, sebuah kisah tak akan mampu menginspirasi ketika tidak tersampaikan dengan hati. Jadi, tenangkanlah pikiranmu.. sejukkan hatimu, mulailah membaca kisah dengan bismillaah. Bacalah 2K (2 kisah) ini.
            Suatu ketika di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur, ada santri yang berulah dan membuat banyak masalah. Tidak ada yang berani mengadukan kelakuannya itu pada Sang Kiai karena si pembuat masalah termasuk orang yang cukup ditakuti oleh kebanyakan santri. Namun, akhirnya ada juga yang melaporkannya walaupun dengan jalan sembunyi-sembunyi. Pelapor tersebut sangat terganggu dengan ulah santri itu. Laporan pun diterima.
            Hari berganti hari, satu pekan pun telah terlewati tanpa adanya tindakan tegas ataupun sekadar teguran kepada santri yang membuat masalah. Bahkan, para asatidz tak ada yang membicarakan masalah itu. “Apa Kiai tidak mempercayaiku?” pikir si pelapor. Karena sudah tidak tahan dengan ulah si santri itu, akhirnya ia memberanikan diri bertanya kepada Sang Kiai.
            “Kiai, saya sudah melaporkan ulah si fulan kepada Kiai beberapa hari yang lalu. Tapi, mengapa sampai saat ini tidak ada teguran dan tindakan apapun kepada si fulan? Sebelumnya saya mohon maaf Kiai kalau sedikit lancang. Tapi, apa Kiai takut dengan orang tua fulan yang seorang tentara?” tanya pelapor pada Sang Kiai. Dengan tenang, Sang Kiai menjawab, “Allah yang akan menyadarkannya”. “Bagaimana bisa Kiai?” si pelapor masih sangsi dengan jawaban Kiai. “Saya sudah mendoakannya”, lanjut Sang Kiai. “Kiai yakin Allah akan menyadarkan dia?” tanya pelapor yang masih tampak ragu. “Kalau saya tidak yakin, untuk apa saya berdoa? Apa kamu akan berdoa sesuatu yang kamu sendiri tidak yakin akan dikabulkan?” Sang Kiai balik bertanya. Si pelapor pun terdiam. Dalam diamnya, ia terus memikirkan ucapan Sang Kiai.
            Qodarullah, keesokan harinya santri pembuat masalah pun menghadap kepada Sang Kiai dan mengakui semua kesalahan yang telah ia perbuat. Bahkan, santri itu menangis saat menceritakan ulahnya. Dengan kerelaan hati ia menjalani hukuman yang diberikan Sang Kiai. Seiring berjalannya waktu, santri itu mengalami perkembangan yang luar biasa dalam akhlaknya, prestasinya, bahkan ia mampu lulus ujian tahfidz dengan predikat mumtaz.
***
            Tidak semua masalah diselesaikan dengan kekerasan. Ada kalanya bagi kita untuk memberikan kesempatan pada diri agar ia berdoa dan memohon kepada Allah. Itulah sisi romantis dari Sang Kiai. Beliau yang sudah lanjut usia, dengan keikhlasan yang luar biasa lebih memilih untuk mendoakan santrinya dibanding memanggil, menegur, dan memarahinya. Ini bukan berarti izin bagi kita untuk membiarkan kemungkaran terjadi di sekitar kita. Tetap saja kita wajib mencegah kemungkaran ketika ia terjadi di depan kita. Jika sanggup dengan tangan (kekuasaan), jika tidak sanggup dengan lisan (ucapan), dan jika masih saja tak sanggup, ubahlah dengan hati. Satu pelajaran yang sedang diajarkan oleh Sang Kiai kepada pelapor dan santri yang lainnya adalah tentang kekuatan doa.
            Kisah berikutnya tentang suatu desa yang sudah sangat lama tidak turun hujan. Sumber air mulai mengering dan penduduk mulai mengeluh. Rapat desa memutuskan untuk meminta seorang kiai bersama para santrinya untuk memimpin shalat istisqa' (shalat minta hujan) dan doa-doa.  
Terkumpullah 500 orang santri bersiap shalat istisqa' dan memanjatkan doa dipimpin oleh Sang Kiai. Dari 500 orang santri tersebut semuanya memegang kitab suci Al Quran. Tetapi uniknya di antara 500 orang santri tersebut hanya ada 1 orang yang membawa kitab suci dan ... payung !!        
Tentunya Sang Kiai juga membawa payung. Melihat fenomena tersebut, Sang Kyai hanya tersenyum. Seusai shalat istisqa' dan doa bersama, Sang Kyai menguji sang santri yang membawa payung tersebut, "Saya perhatikan dari 500 santri ini hanya kamu yang bawa payung, kenapa?" Sang santri menjawab, "Karena saya yakin hujan akan turun".

***
Apa hikmah yang bisa kita petik dari kisah diatas?
Sederhana ...
Selama ini kita begitu gigihnya berjuang, "fight", berjibaku demi mengejar kesuksesan. Siang hari kita bekerja penuh semangat dan antusiasme, di malam hari kita berdoa kepada Tuhan. 
Tetapi, perlu juga sekali-kali kita menguji diri kita sendiri, dengan mengajukan pertanyaan "Apakah kita yakin akan sukses?" Lalu persiapan "payung" apa yang sudah kita bawa sejak saat ini?    
Ada cerita tentang seseorang yang sibuk membangun garasi dan carport di rumahnya, padahal kemana-mana dia masih pakai motor. Ramai tetangga membicarakan gelagatnya. Namun orang itu hanya menjawab, "Kan saya yakin bakalan punya mobil dalam waktu dekat". Ya, dia memang ada bisnis yang dikerjakan dan dia pun berdoa dengan khusyuk dan memang dia berencana akan membeli mobil.  
Lalu, pertanyaannya ....
Sejauh mana tingkat keyakinan kita terhadap usaha-usaha mengejar sukses yang kita lakukan selama ini? "Payung" apa saja yang sudah kita persiapkan sejak saat ini? Sebab suksesnya kita adalah bukan untuk diri kita sendiri, melainkan suksesnya kita adalah sebuah amanat untuk berbagi dan membantu orang-orang lain untuk bisa sukses juga.    
Ibnu Atha'illah berkata: "Janganlah seseorang karena tertundanya ijabah do'a, sedangkan ia telah bersungguh-sungguh dalam berdo'a menjadikannya berputus asa. Sebab ALLAH SWT menjamin terkabulnya do'a namun sesuai dengan pilihan-Nya untukmu (yang terbaik), bukan menurut kehendak nafsumu, dan pada waktu yang dikehendaki oleh-Nya, bukan pada waktu yang telah kau inginkan."       
Karenanya berdo'a butuh kesabaran dan tidak boleh tergesa-gesa agar. Do'a jangan pernah berputus asa dari Rahmat ALLAH, karena DIA MAHA MENDENGAR dan MAHA MELIHAT.
Dengan berdoa, hati kita menjadi tenang. Tenanglah dalam berdoa, yakinlah pada yang maha kuasa. Nikmat-Nya, karunia-Nya, dan segenap ketetapan-Nya adalah yang terbaik bagi kita. Bagaimanapun juga, kunci dari terkabulnya doa adalah “keyakinan”. Ketika kita tidak yakin, untuk apa kita berdoa? So, mari rapatkan kembali doa-doa kita. Iringi dengan dzikir dan keimanan yang terjaga. Karena jika kita yakin, Allah pun akan memastikan keyakinan kita.
Jika kita punya hajat (keinginan), senantiasa iringi ikhtiar kita dengan doa. Sehabis sholat, cobalah untuk diam sejenak. Singkirkan segenap urusan dunia yang seringkali menodai hati kita. Tenanglah, hanya dengan mengingat Allah hati kita akan tenang. Yakinlah, Allah tak pernah mengantuk apalagi tertidur. Let’s pray (Lasti_dari berbagai sumber)