Lisan, antara nikmat & laknat

Lukmanul Hakim, seorang hamba Allah yang saleh, yang terkenal dengan perkataannya yang sangat berbobot, pernah ditanya, “Hai Lukman, dari mana engkau mendapat hikmah ini?”. Lukman menjawab, “Dengan berkata jujur dan meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (Iyas, 2002:312)
Dikisahkan, suatu hari Raja meminta Lukman untuk mencarikan daging yang paling enak, maka Lukman membawakannya daging lidah dan hati. Pada hari lain, sang Raja meminta untuk dibawakan daging yang paling pahit, ternyata Lukman tetap membawakan daging lidah dan hati. Terjadilah dialog antara Raja dengan Lukmanul Hakim.
Raja bertanya : Mengapa ketika kuminta daging enak, kau membawa daging lidah dan hati, begitu juga ketika kuminta daging yang paling pahit engkau tetap membawakan daging yang sama ?
Lukman menjawab : Wahai Raja, ketahuilah bahwa kebaikan dan kepahitan seseorang tergantung pada dua daging yang ada pada dirinya, yaitu lidah dan hati. Jika hati dan lidahnya baik, maka baiklah orang tersebut. sebaliknya, jika lidah dan hatinya pahit serta buruk, maka buruklah orang tersebut.
Saudaraku, sebuah kisah yang sarat hikmah dari orang soleh, Lukmanul Hakim diatas semoga memberikan inspirasi tentang pentinglah lidah dan hati. Kali ini kita akan coba salami bersama tentang lidah atau lisan, yang mempunyai fungsi utama untuk kita berbicara, menyampaikan gagasan dan keinginan.
Lisan merupakan salah satu anugerah Allah SWT kepada manusia. “ Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. ” (Al Balad : 8-9). Sedangkan untuk fungsi utama lisan, Allah menegaskan dalam QS Ar Rahman : 1-4, “(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” Sebagaimana anugerah Allah lainnya yang diberikan kepada manusia, lisan mempunyai potensi untuk mengarahkan ke jalan taqwa atau menuju jalan keburukan, mendatangkan nikmat atau mendapatkan laknat, semuanya kembali kepada kita. “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya “ (Asy Syams : 8) .Allah telah memberikan semua perangkat dan petunjuk kepada manusia untuk memilih jalan mana yang ditempuh.
Kapan anugerah lisan benar-benar membawa nikmat? Maka mari coba kita telaah bagaimana Islam memberikan arahan dalam menjaga lisan. Salah satunya adalah berbiacara yang baik atau diam. Dalam hadits riwayat Bukhari Rasulullah bersabda “barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam” . dalam satu kondisi dimana kita tidak tahu apa yang harus diucapkan dan ada kekhawatiran bahwa jika berbicara tidak berkualitas, maka diam lebih diutamakan dan lebih didahulukan. Namun, apabila yang akan dibicarakan itu diyakini mengandung manfaat, maka berbicara pada saat itu adalah lebih utama daripada diam.
Orang yang cerdas adalah orang yang meletakkan hati & pikiran di depan lidahnya, artinya ia merasakan dan memikirkan dengan baik sebelum mengeluarkan kata-kata dari lisannya. Sedangkan orang yang bodoh akan bersikap sebaliknya, sering berbicara tanpa dipikir dan dinalar dengan baik. Hadits ini cukup untuk menjadi pengingat bagi kita : “sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dibanding jarah antara timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih).
Prinsip kehati-hatian dalam menggunakan lisan adalah aplikasi keimanan kepada Malaikat, yang termasuk dalam rukun Iman. Dalam QS Qaf : 18 Allah berfirman “Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkan kecuali di dekatnya ada malaikat Raqib dan Atid”. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat kita akan berbicara menggunakan lisan kita, antara lain Isi pembicaraan, sikap berbicara, situasi pembicaraan dan dampak pembicaraan.
Tentang isi pembicaraan, firman Allah dalam QS. Fushshilat : 33 ini bisa kita jadikan pedoman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?". Jadi, isi pembicaraaan yang terbaik adalah pembicaraan yang menyeru kepada dan mengajak untuk beramal sholih. Sudahkan pembicaraan kita berisi hal-hal tersebut? ataukah ternyata lisan kita terasa lebih nikmat ketika mengajak orang untuk membicarakan orang lain?! Mari beristighfar.
Berdasar petunjuk Al Qur’an, isi pembicaraan yang baik adalah yang berisi perkataan yang benar, qaulan sadida. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (Al Ahzab : 70). Ayat ini seharusnya menjadi peringatan, khususnya bagi bangsa kita yang sedang punya hajatan besar Pileg dan Pilpres yang mana sering para caleg dan capres mengumbar janji-janji , padahal mungkin saja hal itu sulit untuk ditepati. Maka, mari mulai dari diri kita sendiri untuk membiasakan perkataan yang benar, qaulan sadida.
Qaulan ma’rufa, perkataan yang baik juga merupakan prinsip yang harus kita pegang untuk menjaga lisan. Firman Allah “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (Al Baqarah : 263). Ayat ini menekankan di masalah sedekah. Kadang kita temui orang yang bersedekah tapi sambil mengungkapkan sesuatu yang di satu sisi ternyata menyakiti perasaan penerima sedekah itu. Jika hal ini terjadi, tentunya akan mengurangi pahala sedekah tersebut. kita harus benar-benar menjaga lisan saat bersedekah, jangan sampai dorongan nafsu ingin dipuji, ingin dihargai, ingin dianggap dermawan dan keinginan-keinginan lain akhirnya malah membuat sedekah kita berkurang nilainya di sisi Allah dan juga bisa menyakiti perasaan penerima sedekah. Mari hiasi lisan kita dengan qaulan ma’rufa.
Dalam QS Al Isra’ : 23 Allah berfirman “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. Di ayat ini ada istilah qaulan karima, perkataan yang mulia. Adab kepada orang tua menjadi inti dari ayat ini. Kadang, perkembangan zaman sedikit demi sedikit mengikis etika kesopanan kepada orang tua. Dengan dalih “bahasa gaul” akhirnya mengurangi nilai penghormatan kepada orang tua. Padahal sekedar berkata “ah” dengan nada membentak saja begitu dilarang di ayat ini. Semoga kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk memberikan bakti terbaik kepada orang tua, salah satunya dengan mempersembahkan qaulan karima untuk ayah dan ibu kita.
Terkait sikap berbicara, Allah juga memberikan petunjuk melalui ayat Al Qur’an. Ada istilah qaulan layyina di QS. Thaaha : 44 “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” Berbicara dengan lemah lembut adalah makna dari qaulan layyina. Ayat ini merupakan perintah Allah kepada Nabi Musa dan Harun saat akan mendatangi Fir’aun. Kepada Fir’aun yang dzolim saja Allah tetap memerintahkan untuk berbicara dengan lembut. Maka ini adalah adab Islam yang mulia untuk menjaga lisan kita. Walaupun kita tahu yang akan kita bicarakan adalah kebenaran, dan orang yang akan kita ajak bicara adalah orang yang melakukan kesalahan, tetaplah berbicara dengan lemah lembut. Sesungguhnya engkau tidak sehebat Musa dan aku tidak sejahat Fir’aun, tetapi Musa mendatangi Fir’aun dengan lemah lembut, inilah ungkapan salah seorang khalifah saat ada seorang da’I yang ingin menasehatinya tetapi dengan nada bicara yang keras dan kasar. Da’I adalah penyeru kebaikan, dan yang jadi sasaran adalah bagaimana bisa menyentuh hati orang yang dinasehatinya. Tabiat hati adalah selalu suka dengan perkataan yang lembut. Semoga qaulan layyina, kelembutan tutur kata menjadi penghias lisan kita.
Hal yang harus diperhatikan juga dalam berbicara adalah situasi pembicaraan. Salah satu situasi pembicaraan yang perlu disikapi dengan bijak adalah ketika situasi pembicaraan tersebut mengingkari kebenaran, bahkan ada ayat-ayat Allah yang diperolokkan, bagaimana sikap kita? . firman Allah QS An Nisaa’ : 140 “Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam”. Jika situasi pembicaraan seperti itu, ada dua kemungkinan sikap yang bisa dilakukan. Pertama, apabila keberadaan dalam pembicaraan tersebut bermaksud dan mampu menangkal pelecehan itu dengan berdakwah kepada mereka, maka keberadaan dalam majelis tersebut harus dipertahankan. Kedua, jika ternyata tidak mampu memberikan dampak positif di majelis tersebut, maka yang bersangkutan harus meninggalkannya. Ada sebagian orang yang berijtihad untuk tidak masuk ke dalam lembaga DPR karena menurut mereka dalam lembaga itu berlangsung pembicaraan yang melecehkan dam memperolok ayat-ayat Allah dan merendahkan kebenaran. Jika dilihat secara tekstual, hal ini tidak masalah. Akan tetapi, jika ditinjau dari kontekstual, dihubungkan dengan masa depan dakwah dan masa depan lembaga tersebut, maka ijtihad untuk memasukkan sebanyak mungkin orang-orang yang salih dan punya kemampuan argumen yang mumpuni untuk menangkal pendapat yang salah, maka hal ini lebih baik, In syaa Allah. Karena jika orang-orang yang baik mendominasi lembaga-lembaga tersebut, maka kebijakan yang dibuat pun akan mengarah ke kebaikan yang kita inginkan bersama.
Situasi lain adalah ketika kita dalam kondisi berbicara dengan lawan jenis, apa yang harus kita perhatikan? . prinsip dalam situasi pembicaraan dengan lawan jenis difirmankan Allah dalam QS An Nur : 30-31. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya….”. Usaha untuk menjaga pandangan saat berbicara dengan lawan jenis menjadi hal yang harus diperhatikan baik oleh pria maupun wanita. Jangan sampai hanya karena berawal dari pembicaraan yang kita anggap sederhana, akhirnya malah menjerumuskan ke hal-hal berbahaya, yang tentunya akan mengganggu perasaan, interaksi dan menimbulkan penyakit hati. Na’udzubillahi min dzalik.
Setelah isi pembicaraan, sikap berbicara dan situasi pembicaraan, maka 1 hal terakhir yang harus kita perhatikan agar lisan kita membawa nikmat adalah tentang dampak pembicaraan. QS Al An’am : 108 memberikan arahan mengenai hal ini : “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” . sebaik apapun pesan yang akan disampaikan kalau hal itu diprediksi akan berakibat buruk, maka sebaiknya ditangguhkan atau ditunda. Dalam bahasa perencanaan, maka hal ini mirip dengan prinsip begin from the end, kita pikirkan dulu baik-baik apa tujuan akhirnya, baru kemudian kita susun langkah mencapai tujuan tersebut. dampak dari pembicaraan kita harus dipikirkan & dinalar dulu , sehingga kita bisa menyusun isi pembicaraan yang tepat, sikap berbicara yang benar dan juga mencari situasi yang cocok untuk mencapainya. Semoga dengan ini semua, lisan kita benar-benar membawa nikmat, baik di dunia maupun di akhirat.
Saudaraku, tidak boleh kita lupakan bahwa selain potensi membawa nikmat, ternyata lisan juga berpotensi mengundang laknat. Dalam kondisi seperti apa lisan bisa membawa laknat? Mari kita pelajari bersama agar bisa menghindarinya.
Nabi Muhammad pernah bersabda “malu dan sedikit bicara merupakan bagian dari keimanan, sedangkan berkata-kata kasar dan banyak bicara merupakan bagian dari kemunafikan” (HR Timidzi). Pepatah tong kosong nyaring bunyinya nampaknya bermakna senada dengan hadits ini. Berbicara yang berlebihan adalah salah satu penyakit lisan yang harus kita hindari agar terbebas dari laknat.
Berbantahan dan debat kusir juga merupakan hal yang bisa mendatangkan laknat. Kita harus menjaga diri dari penyakit lisan ini.  Orang yang terjebak dalam perdebatan, akhirnya yang dicari bukanlah kebenaran dari hasil debat tersebut, akan tetapi yang ditujua akhirnya adalah bagimana pendapatnya yang dianggap benar sehingga dia merasa memenangkan perdebatan. Maka Rasulullah sangat menekankan untuk menghindari perdebatan sebagaimana sabda beliau “Aku menjamin rumah di sekeliling surga bagi orang yang meninggalkan pertengkaran walaupun ia yang berhak (benar) dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan perkataan dusta walaupun dalam bentuk gurau, dan rumah di ketinggian surga bagi orang yang baik budi pekertinya” (HR Abu Dawud)
Berbohong tentunya termasuk penyakit lisan yang bisa mendatangkan laknat. Ada satu kebohongan yang sangat dibenci Allah dan Rasulullah, yaitu berbohong dengan mengatasnamakan Rasulullah. “sesungguhnya berdusta dengan mengatasnamakan aku tidaklah sama dengan berdusta mengatasnamakan selain aku. Barangsiapa yang berdusta dengan mengatasnamakan aku secara sengaja, maka bersiaplah untuk mengambil tempat di neraka” (HR Bukhari Muslim). Jadi, mari berhati-hati ketika kita ingin menyandarkan pembicaraan kita kepada hadits-hadits Rasululullah, yakinkan dulu bahwa hadits itu memang benar-benar teriwayatkan dengan baik dan kita pernah membaca atau mendengarnya. Jika ternyata belum, lebih baik kita tunda untuk menyampaikannya.

Saudaraku, beberapa hal penting tentang lisan telah kita pelajari bersama, baik yang mendatangkan nikmat maupun yang bisa mengundang laknat. Mari bersama berusaha menjaga lisan agar anugerah Allah yang satu ini mampu menghantarkan kita ke surga-Nya. “barangsiapa mampu menjaga apa yang terdapat diantara dua janggutnya (lisan/mulut) dan apa yang ada diantara dua kakinya (kemaluan), maka aku jamin dia akan masuk surga” (Muttafaq ‘Alaih). [mukti_give]