Remaja Kudu Jadi Striker!

Goool....!! teriakan sang komen-tator bola memecah kesunyian para penonton yang tengah berharap-harap cemas menan-ti kemenangan tim kesayangan-nya. Tepat sesaat setelah aksi piawai Messi, Van Persi, atau Cristiano Ronaldo yang berhasil merobek jaring gawang lawan. Jepretan kamera wartawan dan sorotan televisi pun terfokus pada sosok bintang lapangan yang tengah melakukan victory lap itu. Wajar kalo pelatih dan para pemain lain menyambut dengan antusias kemenangan tim mereka. Nggak salah. Striker atau ujung tombak selalu menjadi tumpuan harapan tim. Posisi mereka di garis depan udah pasti punya peluang besar buat ngobrak-ngabrik perta-hanan dan ngejebol gawang lawan. Betul?
Kayaknya, karakter striker atau ujung tombak itulah yang idealnya melekat dalam diri remaja. Bukan sebagai pemain bola, tapi pelaku kebangkitan. Seperti yang udah sering kita denger, masa depan sebuah bangsa amat tergantung dengan kiprah para pemudanya. Mereka adalah tumpuan harapan bangsa di masa yang akan datang. Semakin berprestasi para pemudanya, tentu masa depan bangsa punya peluang besar untuk bersinar. Tapi, kalo pemudanya miskin prestasi, udah kebayang masa depan negeri itu bakal kayak gimana. Sebuah potret buram coy!
Pergaulan dan idealisme remaja
Sobat muda muslim, gencarnya penyebaran gaya hidup kebarat-baratan bikin temen-temen kita seperti ngadepin dilema. Kudu milih salah satu antara gaul atau Rasul. Ngikutin tren atau pengajian. Biar jadi remaja muslim yang punya idealisme. Gaul iya, identitas muslim juga terjaga. Karena bagi remaja yang pengen trendi, pilihan itu darurat banget. Seperti hidup dan mati. Deeu… sampe segitunya.
Gaul dalam dunia remaja udah dipatok jadi harga mati. Kudu banget. Nggak ada tawar-menawar lagi. Nggak gaul berarti dikacangin. Makanya wajar kalo ada remaja yang mati-matian nggak jajan seminggu buat beli voucher isi ulang ponsel yang 25 rebu-an perak. Yang penting tetep gaul meski cuma modal dengkul.
Berani bergaul berarti kita kudu siap berkorban. Mulai dari uang jajan sampe nilai-nilai Islam. Soalnya, banyak akse-soris dan kegiatan yang udah kepalang dino-batkan jadi simbol pergaulan. Ponsel, jajan di McD, nonton di bioskop, atau nge-dugem. Semuanya perlu doku. Adakalanya pula selalu nyari jalan tengah biar aturan Islam cocok ama simbol-simbol itu. Inilah yang bikin remaja muslim kehilangan identitas. Status keislaman nggak jelas, potret hari depan pun kian bias.
Kini, gaya hidup mengejar mimpi menjadi bintang kian menggejala. Biar bisa ngerasain gaya hidup seleb yang glamour bin mewah. Gaya hidup yang menjanjikan kesenangan dan popularitas. Akhirnya, yang ada dalam benak mereka cuma satu, gimana caranya biar ngetop.. top…top kayak  Selebrities. Segala potensi yang ada dikerahkan. Lihat saja, ajang pencarian bakat bintang muda yang digelar beberapa stasiun televisi ibarat gayung bersambut. Peserta yang ikut audisi membludak. Antriannya panjang banget. Nggak peduli suara atawa wajahnya pas-pasan. Pokoknya tampil pede. Kali aja jurinya ngelindur terus ngelolosin doi. Diterima syukur, nggak juga bisa nyoba lagi. upss!
Sobat muda muslim, hubungan pergaulan dan idealisme remaja emang deket banget. Fase pen-carian identitas yang dilalui remaja menuntut kita untuk punya idealis-me alias tujuan hidup. Cuma sayang seribu sayang, kian hari tren gaul teman remaja kian menuntut para aktivisnya untuk steril dari aturan agama. Hasilnya, tujuan hidup yang mangkal di benak sebagian besar teman remaja cuma sebatas materi, popularitas, atau pengakuan sebagai yang terhebat. Inilah produk gaya hidup yang bikin temen-temen kita jadi teler. Waspadalah!
Menjadi striker handal
Striker handal nggak cuma milik Van Persie yang membela klub asal Inggris, MU. Kita juga bisa meski nggak di lapangan hijau. Kita yang bakal mendobrak pertahanan musuh-musuh Islam yang tengah mengepung kita. Kita juga yang bakalmengajak umat ke arah kebaikan. Karena itu, mari kita sama-sama jadikan diri kita sebagai ujung tombak kebangkitan umat. Berikut beberapa tips sebagai masukan buat yang belum bisa istiqomah dengan Islam : 
Pertama , menempa diri dengan tsaqofah Islam. Nggak usah alergi bin gengsi ikut pengajian. Galilah tsaqofah Islam sedalam mungkin. Sampai kita bener-bener yakin kalo Allah itu ada dan selalu mengawasi kita. Al-Quran itu perkataan Allah yang kudu kita jadiin pegangan dalam hidup. Dan Rasulullah saw. adalah panutan kita dalam berbuat.
Kedua , mengaitkan perbuatan kita dengan kehidupan akhirat. Sebagai muslim, udah seharusnya kita selalu mikir imbalan yang bakal kita terima sebelum berbuat. Pahala atau siksa di akhirat. Walaupun rencana itu masih diperdebatkan dalam hati. Kesadaran hubungan kita dengan Allah Swt. dan akhirat ini yang bisa jadi perisai buat lindungi diri kita dari dosa sekaligus memicu kita mencari pahala.
Ketiga , hidup dalam lingkungan yang baik. Salah satu upaya pencegahan biar kita nggak tergoda berbuat maksiat adalah hidup dalam lingkungan yang sehat dan steril dari godaan setan. Seperti dalam sebuah hadis: “Perumpa-maan teman pendamping yang shalih dan teman pendamping yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Dari penjual minyak wangi kalian bisa mendapatkan minyak wangi atau mencium bau harumnya; sedangkan dari tukang besi kalau tidak membakar pakaianmu, maka kalian akan mendapatkan bau busuk darinya.” (HR Bukhari Jilid 3 No. 314)
Keempat , berdakwah kepada orang lain. Nggak cukup rasanya kalo kita menimba tsaqofah tapi cuma buat diri sendiri. Kebayang, nggak akan tersebar Islam kalo kita nggak ikut nyampein ke orang lain. Karena kita memeluk Islam pun karena ada orang yang nyampein ke kita, keluarga, atau nenek moyang kita. Betul apa bener? Hehehe...
Nah, sobat muda muslim, mumpung kita masih muda, jangan sia-siakan potensi yang kita punya. Manfaatkan waktu yang ada untuk belajar, berdakwah, berbuat baik kepada umat, dan berkarya sebelum masa muda hilang ditelan usia. Nggak ada kata terlambat buat jadi pemuda dambaan umat. Jadi striker pembela Islam ye! Tarik teruus…! 
http://www.dudung.net, dengan beberapa penyesuaian