Ngomongin Kebenaran Aja Kok ?

   
 Barangkali sering dalam kehidupan sehari-hari kita temui orang-orang sering membicarakan aib orang lain, atau mungkin bahkan diri kita sendiri.  Sangat mudah, gampang, dan ringan sekali mulut kita membicarakan orang lain. Dan terkadang, memang begitulah hobi sebagaian manusia dalam mengisi waktu senggang baik disadari atau tidak yaitu : ngomongin orang lain! 
“Ah, kita kan ngga nge-fitnah, cuma ngomongin fakta ajah”, begitu alasan mereka.
Seandainya memang benar bahwa apa-apa yang dibicarakan itu merupakan kebenaran (fakta), namun tetap lebih utama bagi kita untuk menghindari pembicaraan yang menyangkut hal-hal yang tidak baik dalam diri orang lain.
  Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tahukah kalian, apa itu ghibah.” Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Yaitu, engkau menceritakan saudaramu apa yang tidak ia suka.” Ada yang bertanya: Bagaimana jika apa yang aku katakan benar-benar ada pada saudaraku?. Beliau menjawab: “Jika padanya memang ada apa yang engkau katakan, maka engkau telah mengumpatnya dan jika tidak ada, maka engkau telah membuat kebohongan atasnya.” (HR. Muslim)
Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib-aib orang lain. (HR. Ad-Dailami)
 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata, “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.”  (HR. Bukhari)
Lidah memang tidak bertulang, tapi lidah yang tanpa tulang ini, bisa menjadi jauh lebih tajam dan menyakitkan dari pada sebilah pedang. Peringatan tentang hal ini telah disampaikan oleh suri teladan terbaik umat manusia, Rasulullah Muhammad SAW, Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
Dan bahkan ada ganjaran kebaikan yang besar bagi orang-orang yang mampu mengendalikan lisannya dari mengucap kejelekan, Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya surga. (HR. Bukhari)

Memakan Bangkai Saudara Sendiri
”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al- Hujurat: 12).
Ada suatu penyakit yang amat berbahaya yang diderita oleh mayoritas kaum muslimin pada umumnya, bahkan nyaris tidak ada seorang pun yang dapat melepaskan diri daripadanya kecuali orang yang mendapat rahmat oleh Allah , yaitu ghibah.
Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan perintah Allah taala dengan baik, bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi Shollallahu alaihi wasallam, mampu untuk menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khomer, bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari, senantiasa puasa Senin dan Kamis, namun mereka tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah. Bahkan walaupun mereka telah tahu bahwasanya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah.
Koreksi Diri Sendiri
Maka akan lebih baik bagi kita untuk lebih mencermati kekurangan, kejelekan, dan aib yang ada pada diri kita sendiri. Tentunya sebagai bagian dari koreksi diri, bahan evaluasi, perbaikan, dan juga permohonan taubat/ampunan.
Seandainya hal ini kita semua lakukan, tentu tidak akan pernah ada pepatah yang mengatakan “semut di ujung lautan, tampak; gajah di pelupuk mata, tidak nampak.” Beruntunglah orang-orang yang sibuk memperbaiki diri, berbahagialah mereka!