Setiap orang punya harapan, impian dan keinginan. Karena harapan itulah kita masih bertahan untuk menjalani aktifitas kita. Karena harapan itulah kita memiliki kekuatan untuk memperjuangkan sesuatu, walaupun untuk memperjuangkan itu kita harus melewati keadaan yang kadang tidak mengenakan dan melelahkan.Dengan harapan itulah perjalanan hidup yang tidak selalu menyenangkan bisa kita lewati.
Kita melihat orang-orang yang begitu bersemangat melakukan suatu hal. Kemudian gagal dan sampai hari ini memvonis diri mereka sendiri tidak mampu melakukan hal tersebut. Mereka mengurung diri secara fisik dan psikologis dari setiap kesempatan lain yang datang untuk mengulangi atau mencoba sesuatu hal baru untuk kesuksesan mereka. Oleh karena itu, kita memiliki sebuah dunia yang dipenuhi orang-orang yang putus asa dan menganggap diri mereka gagal. Merasa tidak mampu melakukannya sendiri.
Semua hanya karena perasaan jera, menyerah dan putus asa. Seakan tidak lagi mempunyai harapan. Jera dalam berupaya untuk mendapat hal-hal baik untuk hidup kita adalah seperti mengikat tali pada sebatang pohon ke satu kaki di saat kaki yang lain berusaha berjalan.
Orang-orang hebat benar-benar menjadi hebat karena jauh sebelum ia hebat ia punya mimpi-mimpi hebat. Banyak dari kita yang ingin menjadi hebat dianjurkan untuk terlebih dahulu berani berfikir adan bermimpi hebat. Namun, bermimpi hebat saja tiadak cukup, mimpi-mimpi yang tidak dtuangkan atau keseharian yang hanya hanyut dalam mimpi akan tidaklah membuah kan hasil apa-apa.
Kisah nyata dari seorang Abraham Lincoln. Orangtuanya miskin dan tidak berpendidikan. Lincoln sendiri hanya mengecap pendidikan selama kira-kira setahun. Ketika beranjak dewasa ia berusaha keras untuk menambah pengetahuannya dengan membaca buku dan menulis hingga kemudian jadi ahli hukum.
Masa mudanya ia habiskan dengan menjalani berbagai pekerjaan mulai dari pembelah kayu pagar, tentara, menjadi kelasi di kapal-kapal sungai, juru tulis, pengurus kedai, kepala kantor pos, dan akhirnya menjadi pengacara. Suatu kali ketika ia menyewa kapal ke New Orleans untuk mengangkut barang-barang dagangan, untuk pertama kalinya ia melihat perbudakan. Dan saat kedua kali datang ke kota itu ia berjanji akan menghapuskan perbudakan ini. Keinginannya itu terealisasi ketika ia telah menjadi pengacara. Tak sedikit budak yang berhasil dibebaskannya.
Keinginan membebaskan perbudakan di Amerika begitu besar. Keinginan ini mewarnai karier politiknya. Langkah pertamanya di kancah politik dimulai tahun 1832, sewaktu ia masih berusia 23 tahun. Ketika itu ia mencoba menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Kongres) dari Illinois. Namun kalah pemilihan. Dua tahun kemudan ia berusaha lagi. Kali ini menang. Dan ia terpilih lagi untuk dua periode berikutnya.Pada tahun 1846, Lincoln terpilih menjadi anggota Kongres. Namun keanggotaannya tidak diperpanjang karena ia mengusulkan undang-undang untuk mengakhiri perbudakan di distrik Columbia. Karena kecewa, ia kembali mengaktifkan biro hukumnya dan menghentikan kegiatan politiknya untuk beberapa waktu.
Tahun 1854, isu perbudakan yang mencuat membuatnya kembali ke kancah politik. Lincoln tak menyangka bahwa setengah dari negerinya mempertahankan praktek perbudakan. Ia berpikir, tak mungkin bangsanya terdiri dari separuh budak separuh bukan. Namun ia terpukul saat gagal meraih kursi Senat AS.
Meski begitu ia tak menyerah. Tahun 1860 ia justru terpilih menjadi calon presiden dari Partai Republik. Akhirnya ia memenangkan pemilihan presiden dan menjadi Presiden AS yang ke-16. Di masa kepresidenan Lincoln inilah muncul harapan para budak di AS terbebas dari sistem yang menjadikan mereka manusia kelas dua. Kepemimpinannya melahirkan harapan baru dan semangat baru.
Sayangnya pada 15 April 1865, ia meninggal setelah ditembak pemain sandiwara yang memiliki gangguan jiwa sehari sebelumnya di teater Ford, Washington. Amerika berduka. Namun itu tak memupus ambisinya mengenyahkan perbudakan dari Amerika. Kini di Lincoln Memorial, tertulis semangatnya yang terus menyala yang ia ucapkan saat pelantikan presiden untuk kedua kalinya. “Dengan keteguhan hati dan kebenaran yang sesuai dengan titah Tuhan, marilah kita berusaha untuk menyelesaikan tugas kita sekarang, yaitu menyembuhkan luka-luka bangsa.” Itulah Abraham Lincoln yang tak hanya menjadi tokoh kenamaan AS melainkan juga dibanggakan dunia.
Disinilah kita mengenal istilah “Berpikir global dan tindakan lokal” yang oleh kebanyakan orang menerapkanya terbalik. Berpikir global atau memiliki kesebangunan dengan visioner dapat di tasik maknanya salah satunya.dengan memandang sesuatu misalnya masa depan tidak dengan kaca mata sempit hari ini dan keterbataan .kita miliki sekarang, keluasan pengetahuan akan membantu kita untuk membuat pikiran kita lebih terbuka sebagai prasyarat sebuah optimisme.
Bertindak lokal salah satu maknanya adalah kita harus realistis pada kemampuan kita, segala sesuatu apalagi sesuatu itu besar apalagi hebat dan tidak serta merta terwujud begitu saja “Rome was not built in a day”, Roma tidaklah dibangun dalam sehari, segalanya memerlukan proses. Sikap menghargai proses inilah yang dimaksud bertindak lokal, mengerjakan sesuatu mulai dari yang bisa dan terus meningkatkannya “starting by doing what is necessary, then what is possible and suddenly you are doing the impossible”, mulailah melakukan dari apa yang kiata bisa, lanjutkan dengan apa yang mungkin dan tanpa sadar kita telah melakukan apa yang dulu kita anggap tidak mungkin.
Perhatikanlah bayi yang baru belajar jalan. Saat kita membantunya untuk pertama kali berdiri, dia bahkan tidak sanggup melakukannya. Kaki-kakinya yang mungil itu belum terbiasa menopang bobot tubuhnya. Berkali-kali, lagi dan lagi kita membantunya berdiri. Dia jatuh lagi. Tapi apa, dia tetap bangkit lagi. Bayi ini akhirnya dapat berdiri sendiri tanpa bantuan kita lagi. Ketika kita membantunya berjalan. Dia jatuh, tak kuat melangkah. Pertama-tama dia menangis. Lalu diam dan berdiri lagi. Dan berjalan lagi. Apakah dia menyerah di percobaan pertama? Apakah kita yang menyerah mengajarinya berjalan. Pastinya tidak! Bayi itu tidak menyerah, dan tak mengenal kata tidak bisa. Hingga akhirnya bayi itu dapat berlari.
Mungkin saat itu kita merasakan jatuh, bangun, terperosok dan menangis. Tapi kita tidak menyerah. Kita malah bangkit meski sekian kali terjatuh dan menangis. Bila proses jatuh, bangun dan menangis tidak kita alami, kita mungkin masih belum bisa berjalan dan berlari.
Begitu juga kita ketika belajar bersepeda. Kita seringkali merasakan jatuh dan bangun, bahkan berdarah. Tapi semangat petualangan yang tinggi membuat jatuh, bangun dan berdarah itu menjadi sebuah cerita yang pantas diceritakan kepada anak-anak kita nantinya. Semakin dewasa, semangat petualangan itu menjadi pudar. Rasa sakit tidak lagi kita rasakan sebagai sebuah harga petualangan. Kita semakin rentan dan rapuh. Tidak ada lagi rasa ingin tahu yang membara. Yang terasa dari rasa sakit hanya lelah, letih, dan berat.
“Tidak semua orang yang bermimpi, mau menuangkannya”
Maka langkah awal untuk mewujudkan mimpi-mimpi besar kita adalah dengan menuangkannya dalam bentuk rencana-rencana hidup, seolah-olah sebuah peta masa depan atau rancang biografi kita sendiri. Sudah menjadi rahasia orang-orang sukses dan orang-orang hebat.
“Tidak semua orang yang menuangkannya, berani mengusahakannya”
Faktor terpenting adalah keberanian untuk mencoba. Karena setiap orang yang berani akan memiliki peluang untuk bisa sementara orang yang bisa belum tentu ia berani. Mimpi-mimpi yang sudah dijabarkan dalam bentuk gagasan dan rencana bagi sebagian orang tidak mudah untuk dikerjakan dan diusahakan. Bagaimana seseorang mau mengusahakan sesuatu, permasalahnya ini erat kaitannya antara motivasi dan tujuan atau hasil. Berdasarkan sebuah penelitian di barat, kurva motivasi terhadap tujuan, dalam hal ini harapan atau mimpi kita berbentuk parabola keatas.
“Tidak semua orang yang mengusahakannya, berani bersungguh-sungguh”
Orang-orang yang lolos hingga tahap ini masih dibayangi dengan tahapan selanjutnya, kadang orang mengusahakan sesuatu yang diimpikan hanya sekadarnya, ketika dirinya merasa dirugikan atau hasil-hasil kecil yang dicapai tidak berarti, bisa-bisa ia jenuh, keluar keluhan dan keputusasaan dan upaya menggapai mimpinya pun berhenti, selesai sampai disitu.
Dalam mengusahakan sesuatu sekecil atau sebesar apapun itu, kita harus menyadari dan memahami makna berproses. Dalam hal ini kesungguhan amatlah diperlukan, diperjalanan memperjuangkan mimpi tidak selamanya mulus bak jalan tol, kadang berliku kadang berlubang, kadang tersesat yang jelas tidak mudah.
Norman V. Peale dalam bukunya You Can If You Think You Can, ia mengatakan, ”Apabila Tuhan ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga, bagaimanakah Ia memberikannya kepada Anda? Apakah Ia menyampaikan dalam bentuk suatu kiriman yang indah dalam nampan perak? Tidak! Sebaliknya Tuhan membungkusnya dalam suatu masalah yang pelik, lalu melihat dari jauh apakah Anda sanggup membuka bungkusan yang ruwet itu, dan menemukan isinya yang sangat berharga, bagaikan sebutir mutiara yang mahal harganya yang tersembunyi dalam kulit kerang.” Karena tidak mudah inilah sukses, menggapai mimpi sendiri adalah hak-hak orang-orang pilihan.
“Tidak semua orang yang bersungguh-sungguh, tidak pernah menjumpai kegagalan”
Sukses itu adalah sebuah titik kecil di puncak gunung kegagalan. Orang yang sukses, orang berhasil mewujudkan mimpi besarnya bukanlah orang yang selalu dimanjakan oleh keadaan dan tidak pernah menjumpai kegagalan. Banyak orang sukses justru amat menghargai kegagalan, karena dari kegagalan- kegagalan itulah ia belajar banyak hal. Kegagalan adalah harga yang harus dibayar untuk kesuksesan yang ingin kita dapatkan.
“Tidak semua orang yang menjumpai kegagalan,berani bangkit darinya”
“Bila ku terjatuh nanti, ku kan siap tuk melompat lebih tinggi”, (Sheila on 7).
Tidak penting seberapa sering kita gagal, yang harus kita perhatikan bagaimana kita bangkit dari setiapnya. Kemauan kita dan keberanian kita untuk bangkit dari kegagalan sebenarnya bergantung seberapa penting nilai pencapaian mimpi dan tujuan yang kita kejar bagi kita. Hambatan-hambatan berupa kegagalan seberat apapun tidak ada rasanya bila bagi kita tujuan yang sedang kita upayakan jauh lebih penting.
“Tidak semua orang yang bangkit dari kegagalan, berani lebih baik”
Ketika gagal dan mampu bangkit, menjadi suatu keharusan bagi kita untuk mengambil pelajaran. Dari kegagalan kita agar kegagalan yang sama tidak terulang lagi. Ketangguhan itu tidak harus kita dapatkan dari orang lain. Yang kita perlukan hanyalah kembali kepada fitrah kita. Kembali menjadi tangguh seperti kita dulu. Mensyukuri anugerah-NYA. Itu saja. Kalau setiap orang yang berupaya tangguh seperti bayi ketika belajar jalan. Kala mereka jatuh lalu langsung bangkit lagi. Maka kita akan melihat sebuah dunia benar-benar Luar Biasa.
“Ketika satu pintu tertutup, pintu-pintu lain terbuka. Namun kita terlalu lama memandangi pintu yang tertutup itu dengan penuh penyesalan. Sehingga tidak melihat pintu-pintu lain yang dibukakan untuk kita“
“Tidak semua orang yang menjadi lebih baik, tidak menjumpai kegagalan berikutnya”
Harga sebuah keberhasilan, semua pencapaian akan mimpi kita kadang tidak cukup hanya dibayar dengan sebuah kegagalan. Tidak semua orang yang menjumpai dan bangkit dari kegagalan demi kegagalan, mencapai suksesnya. Sukses hanyalah dimiliki mereka yang tidak berhenti sekalipun dihadapkan pada kegagalan sebanyak apapun. Orang yang mampu menembus pintu-pintu penghalang yang disebut kegagalan itu adalah ia yang memahami makna kegagalan itu sendiri dengan benar, kegagalan adalah pelajaran, kegagalan adalah sukses yang tertunda.
Ribuan bahkan jutaan kegagalan yang kita hadapi bukan benar-benar kegagalan sepanjang kita masih mau bangkit, kegagalan benar-benar menjadi sebuah kegagalan ketika kita berhenti. Sukses hanyalah milik orang yang tidak pernah berhenti, dan tidak pernah mau dihentikan oleh kegagalan.
“Tidak semua orang yang mencapai suksesnya, berani mempertahankan suksesnya”
Ketika kita mencapai sukses, menemukan impian kita bukan berati kita hidup tanpa masalah. Masalah menimpa siapa saja, yang membedakan adalah mereka jauh lebih siap menghadapi permasalahan yang bagi kebanyakan orang mungkin dirasa berat, banyak pelajaran dari pengalaman dalam perjalan mencapai sukses. “Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”
“Tidak semua orang yang mempertahankan suksesnya, berani membagi membagi sukses”
Sukses tak ubanya seperti keterpurukan, kedua-duanya adalah ujian yang mesti kita terima. Ia tidak boleh membuat kita lupa diri. Orang yang sukses adalah ia yang mencapai sukses dan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk sukses.
Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh. Sayang, lebih banyak orang yang menganggap masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari. Mereka tak mampu melihat betapa mahalnya mutiara yang terkandung dalam setiap masalah. Allah amat mengetahui kemampuan kita masing-masing. Ia tak akan pernah memberikan suatu beban yang kita tak sanggup memikulnya. Jadi, Jangan katakan tidak bisa, sebelum kita berani untuk memulainya.
