Tidak ada yang mengenalnya. Ia hanyalah seorang hamba sahaya yang diperjual belikan. Kemudian seorang bangsawan quraisy terkemuka bernama Abu Huzaifah bin 'Utbah ra membelinya dan menjadikannya sebagai anak angkat. Ketika cahaya Islam menerangi hati keduanya, dan Islam menghapuskan tradisi menasabkan anak angkat kepada bapak angkatnya, maka Abu Huzaifah memerdekakan dan menjadikan Salim sebagai saudara dan maulanya (hamba yang telah dimerdekakan). Sehingga ia kini dikenal sebagai Salim Maula Abu Huzaifah.
Atas karunia dan nikmat Allah swt, Salim dengan cepat mempelajari ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw. Dengannya Salim mencapai kedudukan yang tinggi dan terhormat di kalangan orang-orang Islam. Dia berjiwa besar, berakhlak mulia dan memiliki taqwa yang tinggi. Salim menjadi imam bagi orang-orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah pada setiap kali mereka solat di masjid Quba'. Dia menjadi tempat bertanya mengenai Kitabullah hingga Rasulullah saw memerintahkan para sahabat belajar darinya.
Pada suatu hari, Rasulullah saw berpesan kepada para sahabat dengan sabda beliau yang bermaksud, "Ambillah oleh kamu al-Quran dari empat orang : yaitu Abdullah bi Mas'ud, Salim Maula Abu Huzaifah, Ubai bin Ka'ab dan Mu'az bin Jabal."
Rasulullah saw juga pernah bersabda kepadanya, "Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam golonganku seorang seperti kamu."
Dialah Salim, seorang hamba sahaya yang karena kecerdasannya dan ketundukannya kepada Allah swt menjadikannya sebagai seorang yang mulia di kalangan kaum Muslimin. Tidak hanya dia seorang, kisah senada juga ada para sahabat-sahabat Rasulullah yang lain. Karena ajaran yang Rasulullah bawa, memerdekakan jiwa-jiwa yang selama ini terantai kejahiliyahan.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Mujadilah [58]: 11).
Al Hafizh menjelaskan, “Ada yang mengatakan tentang tafsirannya adalah: Allah akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang beriman yang tidak berilmu. Dan pengangkatan derajat ini menunjukkan adanya sebuah keutamaan” (Fathul Bari, 1/172). Beliau juga meriwayatkan sebuah ucapan Zaid bin Aslam mengenai ayat yang artinya, “Kami akan mengangkat derajat orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf [12]: 76). Zaid mengatakan, “Yaitu dengan sebab ilmu.” (Fathul Bari, 1/172)
Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya sebuah riwayat dari Abu Thufail Amir bin Watsilah yang menceritakan bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan Umar bin Khattab di ‘Isfan. Ketika itu Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Umar pun berkata kepadanya, “Siapakah orang yang kamu serahi urusan untuk memimpin penduduk lembah itu?”.
Dia mengatakan, “Orang yang saya angkat sebagai pemimpin mereka adalah Ibnu Abza; salah seorang bekas budak kami.” Maka Umar mengatakan, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”. Dia pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah orang yang pandai memahami Kitabullah, mendalami ilmu waris, dan juga seorang hakim.”
Umar radhiyallahu’anhu menimpali ucapannya, “Adapun Nabi kalian, sesungguhnya dia memang pernah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan sebab Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya karena kitab ini pula.’ (HR. Muslim).
Berdoa Agar di Mudahkan dalam Mencari Ilmu
Untuk meraih kedudukan dengan Ilmu, Rasulullah saw mencontohkan agar kita juga mendahulukan berdoa terlebih dahulu agar dimudahkan dalam mendapatkan tambahan ilmu. Di dalam Kitabul Ilmi Bukhari membawakan sebuah ayat yang artinya, “Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha [20]: 114). Kemudian Al Hafizh menjelaskan, “Ucapan beliau: Firman-Nya ‘azza wa jalla, ‘Wahai Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu’. Memiliki penunjukan yang sangat jelas terhadap keutamaan ilmu. Sebab Allah ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan untuk apapun kecuali tambahan ilmu.
Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i; yang dengan ilmu itu akan diketahui kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf untuk menjalankan ajaran agamanya dalam hal ibadah ataupun muamalahnya, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, dan hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, menyucikan-Nya dari segenap sifat tercela dan kekurangan. Dan poros semua ilmu tersebut ada pada ilmu tafsir, hadits dan fiqih…” (Fathul Bari, 1/172). Karena dengan ilmu-ilmu itulah Allah akan membukakan pikiran dan hati kita sehingga lebih mudah mendapatkan dan mengembangkan pengetahuan yang telah Allah tambahkan kepada kita.
Bertanya dan Meneladani Ahli Ilmu
Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memerintahkan untuk bertanya kepada mereka (ahli ilmu) dan merujuk kepada pendapat-pendapat mereka. Allah juga menjadikannya sebagaimana layaknya persaksian dari mereka. Allah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu kecuali para lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka: bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kalian tidak mempunyai ilmu.’ (QS. An Nahl [16]: 43). Sehingga makna ahli dzikir adalah ahli ilmu yang memahami wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi.” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24)
Ibnul Qayyim mengatakan, “Allah Yang Maha Suci memberitakan mengenai keadaan orang-orang yang berilmu; bahwa merekalah orang-orang yang bisa memandang bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi dari Rabbnya adalah sebuah kebenaran. Allah menjadikan hal ini sebagai pujian atas mereka dan permintaan persaksian untuk mereka. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang diberikan ilmu bisa melihat bahwa wahyu yang diturunkan dari Rabbmu itulah yang benar.” (QS. Saba’ [34]: 6).” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24)
Maka, kita memerlukan sebuah keteladanan dari para ahli ilmu. Lingkungan masyarakat yang mempraktikkan akhlaqul karimah merupakan bentuk keteladanan dan pembiasaan terbaik. Penelitian menyebutkan bahwa perilaku anak lebih ditentukan oleh lingkungannya daripada kondisi internal si anak (Leming, 2008). Keteladanan dan pembiasaan merupakan faktor utama dalam mengasah kecerdasan emosi (Narvaez, 2008).
Rasulullah Saw menjadikan dirinya suri teladan sebelum menuntut umatnya mempraktikkannya. Prinsip inilah yang harus dipegang oleh para pendidik. Bahkan, para teladan harus menunjukkan kebaikan yang lebih besar dari apa yang dituntut atas anak-anak sehingga anak-anak menjadi lebih termotivasi dalam menjalankan kebaikan.
Keteladanan Rasululullah Saw ditegaskan Allah Swt dalam firmanNya di Surat al-Ahzab ayat 21:Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.Aisyah ra. Juga pernah meriwayatkan bahwa: “Akhlaq Rasulullah Saw adalah (sesuai) al-Qur’an.”(HR. Muslim)
Rasulullah Saw juga menyuruh para orang tua untuk membiasakan anak-anak menjalankan perintah agama sejak kecil, walaupun mereka baru terkena beban agama setelah baligh. Dalam sebuah hadist Nabi Saw bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah mereka apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud & al-Hakim)
Rasulullah Saw memberikan keteladanan sekaligus membiasakan perbuatan baik melalui penerapan Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Larangan zina, misalnya, didukung dengan langkah-langkah untuk menjauhkan manusia dari berzina, seperti larangan untuk berdua-duaan, kewajiban untuk menutup aurat, serta pelaksanaan hukuman bagi pelaku zina.
Segala Sifat Terpuji Bersumber dari Ilmu
Ilmu itu, jika bermanfaat, akan membimbing dan menghantarkan pemiliknya menuju tangga ma’rifatullah. Sebuah tujuan induk dari segala orientasi ilmu pengetahuan. Dengan begitu ia akan mengenal Tuhannya lebih dekat, mengetahui apa-apa yang menjadi kesenangan-Nya dan apa-apa yang dibenci-Nya. Ia akan semakin bersemangat untuk terus dekat dan mendekat kepada-Nya, dengan amalan ibadahnya. Dari sinilah kemudian muncul iman, taqwa, khouf (takut pada ancaman Allah) dan roja’ (mengharap keridhoan Allah). Dan itu semua berawal dari ilmu.
Inilah titik akhir dari semua tujuan dipelajarinya ilmu pengetahuan. Menghantarkan manusia untuk mengenal Rabb-nya. Dengan begitu maka Allah akan memuliakannya. Dan jika ilmu yang diraih tidak bisa menghantarkannya menuju ma’rifatullah, maka ilmu itu sia-sia, tanpa guna, muspro, dan bahkan berbahaya.
Simaklah ungkapan seorang ulama’ berikut ini: “Barangsiapa yang bertambah ilmu pengetahuannya namun tidak bertambah ketakwaannya, maka ia tidak bertambah dekat dengan Allah, bahkan malah bertambah jauh.”
Dari sinilah kemudian kita bisa menyibak sebuah tabir hikmah dibalik makna firman Allah: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28).
Ayat tersebut memakai pola pengkhususan, yaitu dengan kata “innamaa”. Sehingga mengisyaratkan makna yang kuat bahwasanya hanya orang-orang berilmu saja yang takut kepada Allah. Namun kembali lagi ke atas, bahwa orang berilmu disini adalah orang yang ilmunya membuatnya semakin mengenal Allah Ta’ala.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam al-Qur’an maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan oleh-Nya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 128). Beliau juga menegaskan, “Dan tidaklah diragukan bahwasanya kebodohan adalah pokok seluruh kerusakan. Dan semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 101)
Kebahagiaan Ilmu
Ibnul Qayyim mengatakan, “Adapun kebahagiaan ilmu, maka hal itu tidak dapat kamu rasakan kecuali dengan cara mengerahkan segenap kemampuan, keseriusan dalam belajar, dan niat yang benar.
Beliau juga mengatakan, “Berbagai kemuliaan berkaitan erat dengan hal-hal yang tidak disenangi (oleh hawa nafsu, pen). Sedangkan kebahagiaan tidak akan bisa dilalui kecuali dengan meniti jembatan kesulitan. Dan tidak akan terputus jauhnya jarak perjalanan kecuali dengan menaiki bahtera keseriusan dan kesungguh-sungguhan. Muslim mengatakan di dalam Sahihnya, Yahya bin Abi Katsir berkata: ‘Ilmu tidak akan diraih dengan tubuh yang banyak bersantai-santai.’ Dahulu ada yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang menginginkan hidup santai (di masa depan, pen) maka dia akan meninggalkan banyak bersantai-santai’.” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 112)
Inilah sekelumit pelajaran dan motivasi bagi para penuntut ilmu. Semoga yang sedikit ini bisa menyalakan semangat mereka dalam berjuang membela agama-Nya dari serangan musuh-musuh-Nya. Sesungguhnya pada masa yang penuh dengan fitnah semacam ini kehadiran para penuntut ilmu yang sejati sangat dinanti-nanti. Para penuntut ilmu yang berhias diri dengan adab-adab islami, yang tidak tergoda oleh gemerlapnya dunia dengan segala kepalsuan dan kesenangannya yang fana. Para penuntut ilmu yang bisa merasakan nikmatnya berinteraksi dengan al-Qur’an sebagaimana seorang yang lapar menyantap makanan. Para penuntut ilmu yang senantiasa berusaha meraih keutamaan di waktu-waktunya. Para penuntut ilmu yang bersegera dalam kebaikan dan mengiringi amalnya dengan rasa harap dan cemas. Para penuntut ilmu yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaannya kepada segala sesuatu. Bergegaslah, sambut hari esok dengan ilmu.
Wallahu a’lam
(GIVE)
