Oleh Catur Wibowo (Manajer Umum LAZIS UNS)
Saya masih ingat saat di SD dulu, pada saat mengerjakan soal Bahasa Indonesia, sang guru memberikan pertanyaan isian kira -kira begini: "Ibu ..... sayur di pasar", saya pun memilih dan mengisi titik-titik tersebut dengan kata "membeli". Saya yakin teman-teman saya yang lain sama dengan jawaban saya tersebut. lalu, sang guru membenarkan jawaban itu karena memang itulah jawaban yang tepat. Sampai sekarang saya masih bertanya mengapa pilihan jawaban tidak ada kata "menjual" ?. Mungkin terlalu ekstrim jika saya menyimpulkan bahwa pendidikan jaman dulu membentuk anak menjadi komsumen, bukan produsen atau bisnisman.
Sementara itu, saya sangat salut kepada teman sebaya saya saat masih SD. Hampir tiap hari dia selalu membawa daganggan ke sekolah. Entah itu buah-buahan, es, dan lain sebagainya yang dia dapatkan dari titipan tetangganya. Dan saat itu sangat jarang anak-anak yang meniru dia, menjual dan memanfaatkan peluang pasar, kebanyakan mereka menjadi pembeli saja, termasuk saya sendiri.
Kemandirian ekonomi tentunya harus ditanamkan sejak kecil. Seperti halnya Nabi kita, Rasulullah SAW, Sejak kecil tepatnya saat berumur 12 tahun, Muhammad sudah diperkenalkan tentang bisnis oleh pamannya, Abu Thalib, dengan cara diikutsertakan dalam perjalanan bisnis ke Suriah. Pengalaman perdagangan (magang) yang diperoleh Muhammad dari pamannya selama beberapa tahun manjadi modal dasar baginya disaat memutuskan untuk menjadi pengusaha muda di Mekah. Beliau merintis usahanya dengan berdagang kecil-kecilan di sekitar Ka’bah.
Dengan modal pengalaman yang ada disertai kejujuran dalam menjalankan usaha bisnisnya, nama Muhammad mulai dikenal dikalangan pelaku bisnis (investor) di Mekah. Dalam kurung waktu yang tidak cukup lama, Muhammad mulai menampakkan kelihaiannya dalam menjalankan usaha perdagangan bahkan beberapa investor Mekah tertarik untuk mempercayakan modalnya untuk dikelolah oleh Muhammad dengan prinsip bagi hasil (musyarakah-mudharabah) maupun penggajian. Pada tahapan ini Muhammad telah beralih dari business manager (mengelola usahanya sendiri) menjadiinvestment manager (mengelola modal investor).
Dengan modal yang sudah relatif besar, Muhammad memiliki kesempatan untuk ekspansi bisnis untuk menjangkau pusat perdagangan yang ada di Jazirah Arab. Kejujuran beliau dalam berbisnis sehingga dikenal olah para pelaku bisnis sebagai Al-Amin menjadi daya tarik bagi kalangan investor besar untuk menginvestasikan modalnya kepada Muhammad, salah satu di antaranya adalah Khadijah yang di kemudian hari menjadi Istri pertama beliau.
Di usia 25 tahun, usia yang masih rekatif mudah, Muhammad menikah dengan Khadijah, seorang pengusaha sukses Mekah. Secara otomatis Muhammad menjadi pemilik sekaligus pengelola dari kekayaan Khadijah. Penggabungan dua kekayaan melalui pernikahan tersebut tentunya semakin menambah usaha perdagangan mereka baik secara modal maupun penguasaan pangsa pasar. Pada tahapan ini Muhammad sudah menjadi business owner.
Kemandirian tidaklah diperoleh secara instan, harus dengan proses. Saatnya kita membentuk generasi mandiri, bukan sekadar generasi konsumen.
